Pertemuan Trump-Kim Makin Dekat, Kemajuan Kesepakatan Masih Minim

Sejak pertemuan tatap muka bersejarah mereka di Singapura delapan bulan lalu, Korea Utara hanya menunjukkan sedikit kemajuan dalam proses pelucutan senjata nuklir dan terus melakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sanksi.
Aprianto Cahyo Nugroho | 11 Februari 2019 14:52 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Pulau Sentosa, Singapura, 12 Juni 2018. - Reutets

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dalam waktu kurang dari tiga pekan mendatang, namun masih ada pertanyaan terbesar yang menggantung: apa tujuan pertemuan tersebut?

Sejak pertemuan tatap muka bersejarah mereka di Singapura delapan bulan lalu, Korea Utara hanya menunjukkan sedikit kemajuan dalam proses pelucutan senjata nuklir dan terus melakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sanksi.

Negosiator AS teratas mengakui bahwa kedua belah pihak masih belum sepakat mengenai seperti apa bentuk denuklirisasi atau apa yang mungkin ditawarkan AS untuk memuaskan pihak Korut.

Perbedaan tersebut menggarisbawahi seberapa jauh jarak kedua belah pihak menjelang KTT kedua Trump dengan Kim, yang dijadwalkan di Hanoi pada 27 dan 28 Februari. Perbedaan itu menyebabkan banyak kritik terhadap Trump yang berpendapat bahwa KTT kedua akan sama seperti yang pertama, yang menghasilkan serangkaian prinsip yang tidak jelas tanpa kemajuan nyata.

"Meskipun akan bagus jika kedua belah pihak membuat kemajuan dalam memperlambat program nuklir Korea Utara di KTT, hasil yang paling mungkin adalah pengulangan (kesepakatan sebelumnya)," kata Vipin Narang, profesor ilmu politik di Massachusetts Institute of Technology, seperti dikutip Bloomberg.

Pendukung Trump mengatakan AS telah mencapai banyak hal, termasuk penangguhan tes rudal dan kembalinya jasad tentara AS yang gugur, sedangkan hanya sedikit yang dikorbankan. Harapan untuk kesepakatan yang bertahan lama, menurut mereka, lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

"Jika saya tidak terpilih sebagai presiden AS, menurut pendapat saya, kita saat ini akan berada dalam perang besar dengan Korut," kata Trump ketika ia mengumumkan KTT Vietnam dalam pidato kenegaraannya pekan lalu.

Pejabat AS juga menunjukkan bahwa Korut tidak lagi menahan warga AS, dan baru-baru ini membebaskan satu warga lainnya, alih-alih menggunakannya sebagai bahan tawar-menawar.

Di sisi lain, Korut dapat membanggakan bahwa mereka membuat Trump melakukan sesuatu, yaitu menangguhkan latihan militer besar dengan Korea Selatan. Sebelum KTT Singapura, Trump sepakat untuk menunda latihan tahunan yang melibatkan puluhan ribu pasukan menyusul saran dari penasihat dan sekutu utamanya, Jepang dan Korsel.

"Ini hadiah terus menerus kepada untuk Korea Utara. Kami tidak memiliki kemajuan dalam denuklirisasi. Bahkan mereka terus melakukan nuklirisasi,” kata Bruce Klingner, peneliti senior di Heritage Foundation.

KTT Singapura, dan rencana untuk mengadakan KTT lanjutan, adalah kemenangan bagi Korut. Setelah bertahun-tahun mendapat kritik atas hak asasi manusia dan pengembangan senjata nuklirnya, Kim telah memperoleh legitimasi global dengan jangkauannya ke Trump dan pemerintah Korsel.

Trump terus memuji Kim, bertukar surat dan memanggilnya seorang pemimpin yang dapat membuat negaranya menjadi "kekuatan ekonomi yang besar" jika dia melucuti persenjataan nuklirnya.

"Dia mungkin mengejutkan beberapa orang tetapi dia tidak akan mengejutkan saya, karena saya telah mengenalnya & sepenuhnya memahami betapa cakapnya dia," ungkap Trump di akun Twitter-nya pada Jum’at (8/2/2019).

Tag : kim jong un, Donald Trump
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top