Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mantan CEO Starbucks Howard Schultz 'Cari Ilham' Maju Pilpres AS

Mantan CEO Starbucks Howard Schultz mungkin belum akan memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) sampai setidaknya pertengahan tahun ini.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  09:40 WIB
Mantan CEO Starbucks Howard Schultz - Istimewa
Mantan CEO Starbucks Howard Schultz - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Mantan CEO Starbucks Howard Schultz mungkin belum akan memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) sampai setidaknya pertengahan tahun ini.

Howard Schultz  bahkan mungkin hanya akan mencalonkan diri jika benar-benar melihat alasan yang dapat diterima untuk memenangkan kursi tersebut di Gedung Putih, seperti diungkapkan seorang penasihatnya pada Selasa (29/1/2019).

Pengumuman yang sebelumnya disampaikan oleh Schultz bahwa ia akan mempertimbangkan pencalonan diri dalam ajang pilpres 2020 sebagai pihak independen, telah menarik reaksi keras dari kubu Demokrat. Padahal, Schultz diketahui menyokong Demokrat selama bertahun-tahun dan mendukung kampanye Hillary Clinton pada 2016.

Suara yang terbagi ketika ia mencalonkan diri sebagai pihak independen dalam pilpres 2020 nanti dikhawatirkan justru akan membantu Donald Trump dari kubu Republik terpilih kembali sebagai Presiden AS.

“Dia 100% akan mencalonkan diri hanya jika melihat jalan untuk itu. Dia tidak akan ambil bagian dalam bursa pencalonan jika tidak ada jalannya,” ujar Bill Burton, mantan asisten Presiden Barack Obama yang baru-baru ini bergabung dengan tim politik Schultz, seperti dilansir Bloomberg.

Menurutnya, Schultz mungkin belum akan mengambil keputusan sampai musim panas atau musim gugur tahun ini. Pada titik itu, para kandidat yang diunggulkan dari kubu Demokrat mungkin menjadi lebih jelas.

Untuk saat ini, Schultz disebut berencana menjadikan dirinya sebagai alternatif moderat untuk dua kubu, Demokrat dan Republik.

Namun, sementara itu ia harus menghadapi cemoohan saat mempromosikan bukunya, ancaman boikot Starbucks jika dia mencalonkan diri, serta kritik meluas dari pejabat Demokrat dan aliansi mereka.

"Jika Howard Schultz menjalankan ide setengah matang ini, ia akan menimbulkan ancaman eksistensial bagi seorang Demokrat dalam ajang [pilpres] 2020 yang diputuskan oleh suara di beberapa negara,” tulis Dan Pfeiffer, mantan kolega pemerintahan Obama, di Twitter.

Schultz telah mengatakan bahwa kemungkinannya maju sebagai pihak independen dapat menyuarakan warga Amerika yang, seperti dirinya, merisaukan dua partai politik utama yang menjauh ke posisi lebih ekstrem.

Dia menyebut Trump sebagai "orang yang sangat tidak pasti" dan mengatakannya telah "berada di sisi yang salah untuk hampir setiap isu”.

Namun Schultz juga mengkritik tokoh Demokrat yang progresif seperti Senator Kamala Harris dari California dan Perwakilan dari New York Alexandria Ocasio-Cortez karena mengusulkan proposal yang bukan tipikal Amerika.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

presiden as Donald Trump
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top