Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cuaca Panas Ekstrim, Australia Peringatkan Warganya Tak Keluar Rumah

Di sejumlah bagian New South Wales, negara bagian yang berpenduduk paling banyak di Australia, dan wilayah Australia Barat, mengalami rekor suhu minimum yang tinggi mencapai 33 derajat Celcius pada Senin (15/1/2019) malam.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Januari 2019  |  13:22 WIB
Cuaca panas - themetrognome.in
Cuaca panas - themetrognome.in

Kabar24.com, JAKARTA – Pemerintah Australia memperingatkan warganya untuk tidak memaksakan diri berada di luar rumah dan minum banyak air karena suhu udara di beberapa bagian negara diperkirakan meningkat dalam beberapa hari mendatang.

Di sejumlah bagian New South Wales, negara bagian yang berpenduduk paling banyak di Australia, dan wilayah Australia Barat, mengalami rekor suhu minimum yang tinggi mencapai 33 derajat Celcius pada Senin (15/1/2019) malam.

Biro Meteorologi Australia mengatakan suhu maksimum diperkirakan akan melonjak hingga lebih dari 45oC pada Rabu di beberapa bagian New South Wales, Australia Selatan, dan Victoria

"Hindari aktivitas fisik, tetap terhidrasi dengan baik, hal ini sangat penting saat ini," kata Richard Broome, direktur kesehatan lingkungan untuk pemerintah negara bagian New South Wales, seperti dikutip Reuters.

Bagi 80% dari 25 juta penduduk Australia yang tinggal di pantai, musim panas biasanya waktu untuk bermalas-malasan di pantai dan menonton pertandingan kriket.

Tetapi suhu yang luar biasa tinggi menambah tekanan bagi ekonomi pertanian yang sudah pulih dari kekeringan selama setahun terakhir.

"Cuaca bukan berita baik untuk tanaman biji-bijian musim panas seperti sorgum," kata Phin Ziebell, ekonom agribisnis di National Australia Bank.

"Banyak petani pantai timur yang masih belum pulih dari panen gandum musim dingin, menderita kekeringan baru-baru ini."

Australia, yang merupakan pengekspor gandum terbesar keempat di dunia, memperkirakan produksi gandum turun ke level terendah dalam 10 tahun tahun ini karena cuaca kering membuat tanaman layu.

Selain itu, lahan juga terpapar bahaya kebakaran karena kondisi kering yang tidak biasanya.

Di akhir tahun 2018, petugas pemadam kebakaran memadamkan lebih dari 100 kebakaran di pantai timur laut ketika cuaca panas yang belum pernah terjadi sebelumnya memicu gelombang api.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kenaikan suhu
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top