Kampanye Usung Kejayaan Orde Baru Tak Menarik Generasi Milenial

Narasi kampanye yang mengusung kejayaan Orde Baru menjelang pemilu presiden dan legislatif 2019 dinilai tak akan diminati, khususnya oleh pemilih pemula dan milenial.
Lingga Sukatma Wiangga | 06 Desember 2018 23:17 WIB
Tenaga relawan menunjukkan surat suara pilkada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar yang telah disortir, di kantor KPU Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13 - 6)..Antara

Kabar24.com, JAKARTA — Narasi kampanye yang mengusung kejayaan Orde Baru menjelang pemilu presiden dan legislatif 2019 dinilai tak akan diminati, khususnya oleh pemilih pemula dan milenial.

Peneliti Senior LIPI Hermawan Sulistyo menilai saat ini pemilih pemula dari generasi milenial sudah cerdas. Sehingga, kampanye soal ilusi kejayaan masa Orde Baru tak akan diminati.

Hal itu dikatakan Hermawan dalam acara diskusi yang digelar lembaga yang sering menyoroti isu demokrasi, Populi Center. Seperti diketahui, saat ini isu kejayaan Orde Baru kembali dihembuskan Partai Berkarya.

Partai politik anyar besutan anak-anak mendiang Presiden Indonesia kedua, Suharto itu merapat ke kubu calon presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto.

"Anak-anak milenial yang cerdas, menelusuri, membuka file lama dan akan tahu siapa penjahat HAM, siapa yang merampok ekonomi kita," katanya di Kantor Populi Center, Rabu (6/12/2018).

Hal itu diamini Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto yang juga mebjadi pembicara dalam diskusi tersebut. Dia beralasan isu kejayaan Orde Baru yang dihidupkan jauh dari masa generasi pemilih pemula.

"Titik temu generasi milenial dengan Orba cukup jauh. Kecuali gagasan [terkait Orba] dimunculkan dengan gagasan baru," tuturnya.

Sebelumnya, di luar diskusi tersebut, Pakar Kumunikasi Politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengkritisi narasi politik Prabowo Subianto yang cenderung mengikuti alur kampanye Partai Berkarya.

Menurutnya Prabowo lebih baik membawakan narasi politiknya sendiri. Prabowo bisa lebih mengangkat isu ekonomi yang langsung mengena tataran akar rumput seperti masalah daya beli.

"Kalau menurut saya Pak Prabowo dan Sandi memainkan narasi politik sendiri saja. Jadi enggak perlu bawa-bawa Orba. Kan setiap rezim ada masanya. Setiap pemimpin ada masanya. Enggak mungkin diulang. Saya yakin kecintaan orang kepada Prabowo dan Sandi bukan karena Orba tapi karena memang seorang Prabowo dan Sandi," ujarnya.

Dia pun menilai banyak pemilih pemula yang tidak memahami Orba.

Tag : jokowi, prabowo subianto, Pilpres 2019
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top