Alasan Samsara Institute dan AJI Surabaya Kritik BPPM Balairung

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya dan Samsara Institute mengkritik cara penulisan hasil investigasi kasus pelecehan seksual salah seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada yang ditulis oleh lembaga pers mahasiswa BPPM Balairung UGM.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 08 November 2018 13:37 WIB
Sejumlah mahasiswa menghadiri aksi solidaritas untuk Agni yang digelar di Taman San Siro, Fisipol UGM - Dok.BPPM Balairung UGM .

Bisnis.com, JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya dan Samsara Institute mengkritik cara penulisan hasil investigasi kasus pelecehan seksual salah seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ditulis oleh lembaga pers mahasiswa BPPM Balairung UGM.

Dilansir dari Twitter AJI Surabaya @aji_surabaya tertulis, “Jurnalis yg nulis koplak pisan.Detail sekali gambarkan modus pelecehan seksualnya. Korban diperkosa dua kali.”

Tak hanya AJI Surabaya, lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi hak kesehatan reproduksi dan isu kehamilan pranikah, Samsara Institute, juga mengkritik hal yang sama.

Dilansir dari Twitter Samsara Institute @info_samsara mereka mengapresiasi upaya tim BPPM Balairung UGM yang berupaya membuka kasus ini, dan berpihak kepada penyintas kekerasan seksual, dengan inisial Agni. Meskipun begitu, pihak Samsara mencatat terkait tulisan yang penting untuk dicermati agar bisa menghasilkan konten jurnalisme pro hak perempuan dan berpihak pada penyintas.

Samsara mencatat penulisan kronologis kasus yang amat detail pada artikel “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan” teruatama pada paragraf 5-11. Menurut Samsara, gaya penulisan ini bisa menggiring pembaca pada posisi negatif dalam kasus perkosaan.

“Apakah penulis tidak berpikir bahwa perempuan yang menjadi korban kekerasan amat rentan menjadi korban lagi dalam pemberitaan yang ditulis seperti laporan ini?,” ungkap tim Samsara Institute di twitter dikutip, Rabu (8/11/2018).

Samsara juga menyebut, persetujuan penyintas sebagai alasan untuk mengeksploitasi cerita korban. Jika benar tulisan tersebut sudah mendapat persetujuan dari korban, namun apakah editor maupun penulis tidak memikirkan upaya untuk memilih angle tulisan yang tidak menjadikan duka penyintas sebagai sumber jualan.

“Tidak adakah cara lebih cerdas untuk membongkar kasus tanpa mengeksploitasi cerita korban?,” sambungnya.

Melalui akun tersebut, Samsara Institute juga mengkritik tentang perlindungan terhadap penyintas berupa penyamaran nama, namun dalam paragraf lain tulisan masih menyebutkan seluruh identitas dengan jelas, seperti fakultas, angkaran kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN), sampai lokasi KKN. Samsara Institute menulis keterbukaan privasi bisa mempengaruhi perlindungan penyintas, sekaligus mempengaruhi keberlanjutan hidup penyintas.

Tim Samsara Institute menegaskan, semangat membela korban, dan melawan pelecehan seksual harus diimbangi dengan pengetahuan yang mumpuni soal jurnalisme pro perempuan.

“Semangat yang menggebu-gebu saja tidak pernah cukup, aktivisme butuh kepala dingin yang jernih memilah dan sensitif terhadap duka penyintas,” terangnya.

Tag : ugm, perkosaan
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top