Masalah Mesin, Boeing Sempat Hentikan Uji Coba 737 MAX pada 2017

Perusahaan pembuat pesawat Boeing tercatat pernah menghentikan uji coba penerbangan untuk seri 737 MAX. Pemberhentian itu, menurut keterangan Boeing pada Rabu (10/5/2017), dikarenakan terdapat masalah pada mesin 737 MAX yang merupakan kolaborasi Boeing dengan General Electric (GE) dan Safran dari Prancis.
Iim Fathimah Timorria | 29 Oktober 2018 22:45 WIB
Beoing 737 Max 9 - AirlineReporter

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan pembuat pesawat Boeing tercatat pernah menghentikan uji coba penerbangan untuk seri 737 MAX. Pemberhentian itu, menurut keterangan Boeing pada Rabu (10/5/2017), dikarenakan terdapat masalah pada mesin 737 MAX yang merupakan kolaborasi Boeing dengan General Electric (GE) dan Safran dari Prancis.

Mengutip laporan Reuters 11 Mei 2017, Keputusan Boeing untuk menghentikan uji coba muncul beberapa hari sebelum mereka mengirimkan 737 MAX pertama ke sebuah maskapai. Pemberhentian ini menjadi sangat mengejutkan mengingat 737 MAX adalah salah satu proyek termutakhir Boeing.

Boeing dan CFM selaku pembuat mesin kala itu mengaku tidak tahu berapa lama penundaan akan berlangsung. Untungnya, belum ada satu pun maskapai yang menggunakan 737 MAX sehingga penundaan tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran publik.

Namun, penundaan tersebut justru berdampak pada saham Boeing. Usai mengumumkan penundaan, saham Boeing turun 1,3% menjadi US$183,15 saat bursa saham New York ditutup sorenya, sementara saham GE turun 0,9% menjadi US$28,67.

737 MAX merupakan seri teranyar dari produksi Boeing 737 yang legendaris. 737 Max 8 merupakan versi pertama yang dikembangkan. Pesawat ini berkapasitas 162 kursi penumpang dan dijual Boeing seharga US$110 juta per unit.

Penundaan pengiriman pesawat ke pelanggan berdampak pada meningkatnya invetaris Boeing. Rob Stallard, analis di Vertical Research Partners menyebutkan kondisi ini lumrah, ia menjelaskan, “Karena pada dasarnya pesawat tengah menunggu mesin.”

Maskapai asal Malaysia Malindo Air merupakan pembeli pertama yang dijadwalkan menerima 737 MAX pada Senin (15/5/2017) untuk penerbangan rute Kuala Lumpur-Singapura yang sedianya dimulai pada 19 Mei.

Namun, CEO Malindo Air Chandran Rama Muthy menyatakan kepada Reuters bahwa pihaknya tidak akan menggunakan pesawat tersebut sampai 22 Mei. Ia tidak menjelaskan alasannya kenapa.

Sementara itu, maskapai Norwegian Air Shuttle ASA dijadwalkan menerima 737 MAX pada akhir Mei. Namun pihaknya tengah mempertimbangkan untuk melakukan penundaan beberapa hari.
“Bagaimanapun keputusan ini tidak akan menunda peluncuran rute trans-Atlantik dari Amerika Serikat ke Edinburgh,” kata juru bicara Norwegian Air Shuttle ASA Anders Lindstorm.

Southwest Airlines yang juga merupakan pembeli awal 737 MAX menyebutkan bahwa pihak Boeing tidak memberi notifikasi perihal keterlambatan pengiriman. Mereka memperkirakan mulai menerima 737 MAX di penghujung tahun usai memensiunkan seri 737 yang lebih tua.

Di lain pihak, American Airlines yang memesan 100 unit 737 MAX menolak memberi komentar perihal penundaaan pengiriman.

Permasalahan 737 MAX muncul di akhir minggu pertama Mei 2017 ketika Safran selaku pembuat mesin menemukan masalah kualitas pada piringan logam besar di dalam turbin bertekanan rendah pada bagian belakang mesin, kata Jamie Jewell, juru bicara perusahaan pembuat mesin pesawat, CFM Internasional.

CFM segera memberitahu Boeing yang kemudian membatalkan uji coba 21 pesawat. Juru bicara GE Rick Kennedy menyatakan piringan logam yang dimaksud belum dipasang pada mesin pesawat.

“Tidak ada masalah apa pun pada mesin saat [uji coba] di lapangan,” kata Jewell.

Kennedy menyebutkan seluruh mesin sejumlah 30 hingga 40 yang telah dibuat akan dikirim ke Lafayette, Indiana atau Villaroche, Prancis untuk pemeriksaan.

Boeing tidak memberi keterangan berapa lama pemeriksaan akan berlangsung namun Kennedy menyebutkan Safran akan melanjutkan proses pembuatan mesin.

Tag : boeing, lion air
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top