Iran Sebut Kebijakan Trump Hina OPEC

Menteri Perminyakan Iran menyatakan Presiden AS Donald Trump telah menghina OPEC dengan memberikan perintah peningkatan produksi dengan harga yang lebih murah. Padahal, produksi dan ekspor minyak Iran mengalami pergerakan stagnan akibat tekanan dari AS.
Nirmala Aninda | 07 Juli 2018 17:37 WIB
Markas OPEC di Wina, Austria - Reuters/Leonhard Foeger

Kabar24.com, JAKARTA -- Menteri Perminyakan Iran menyatakan Presiden AS Donald Trump telah menghina OPEC dengan memberikan perintah peningkatan produksi dengan harga yang lebih murah. Padahal, produksi dan ekspor minyak Iran mengalami pergerakan stagnan akibat tekanan dari AS.

Dilansir dari Reuters, Sabtu (7/7/2018), Trump menuding organisasi negara pengekspor minyak tersebut memicu kenaikan bahan bakar lebih tinggi dan mendesak sekutu AS seperti Arab Saudi untuk memproduksi lebih banyak minyak sebagai jaminan perlindungan terhadap musuh utama mereka, Iran.

"Trump mengirimkan pesan baru setiap hari yang menciptakan ketidakpastian pasar," kata Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah, Sabtu (7/7).

Dia melanjutkan perintah Trump kepada OPEC untuk meningkatkan produksi merupakan penghinaan besar dan menyebabkan guncangan di pasar. 

Zanganeh mengatakan produksi dan ekspor minyak Iran tidak mengalami perubahan akibat tekanan dari AS.

Iran, produsen minyak terbesar ketiga OPEC, sedang menghadapi sanksi AS terhadap ekspor minyaknya yang mendorong beberapa pembeli untuk mengurangi pembelian.

Pada Mei 2018, AS telah mundur dari kesepakatan internasional mengenai program nuklir Iran dan menyampaikan akan memberlakukan sanksi baru terhadap sektor energi negara Timur Tengah tersebut.

Korea Selatan (Korsel) telah menghentikan pengiriman minyak dari Iran pada Juli 2018, pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, di tengah tekanan AS.

Iran mengancam akan memblokir ekspor minyak melalui perairan teluk utama jalur perdagangan sebagai aksi balasan atas upaya AS mengurangi penjualan minyak Iran hingga ke titik nol.

Tag : opec, Donald Trump
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top