Wapres JK: Jangan Lagi Pertentangkan Islam dan Nasionalisme

JK mengingatkan agar masyarakat tidak lagi mempertentangkan Islam dan kebangsaan atau nasionalisme.
Feni Freycinetia Fitriani | 24 Juni 2018 12:03 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberikan pidato arahan pada acara "Global Forum Asian Games 2018, Tahun Olahraga Tahun Politik" di Jakarta, Selasa (15/5/2018). - ANTARA/Widodo S Jusuf

Bisnis.com, MAKASSAR - Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima penghargaan Doktor Kehormatan atau Doktor Honoris Causa dari Universitas Muslim Indonesia Makassar.

JK, sapaan akrabnya, mengingatkan agar masyarakat tidak lagi mempertentangkan Islam dan kebangsaan atau nasionalisme.

Hal ini dikatakan saat memberi orasi ilmiah dengan judul Aktualisasi Prinsip Islam dan Semangat Kebangsaan, di kampus UMI, Makassar.

"Sepatutnya kita tidak membuat jarak, apalagi mempertentangkan keislamanan dengan semangat kebangsaan atau keindonesiaan," kata JK saat berpidato, Sabtu (23/6/2018).

Dia menilai mempertentangkan Islam dan keindonesiaan sama sekali tidak menguntungkan kedua belah pihak. Baik sebagai umat Muslim maupun sebagai Bangsa Indonesia.

Islam, lanjutnya, harus ditempatkan di posisi tinggi dan tidak bisa direduksi ke dalam fenomena semangat kebangsaan atau nasionalisme.

Namun, Islam berperan secara khusus dalam pembentukan semangat kebangsaan. Hal ini terlihat dalam dinamika sejarah di Indonesia. Sebagai faktor pemersatu. Menurutnya, Islam justru mendorong tumbuh dan menguatnya ukhuwah di Indonesia.

"Islam menjadi pemersatu di antara begitu banyak suku-suku bangsa yang berbeda adat di negeri ini," jelasnya

Dalam perkembangan selanjutnya, JK menilai ukhuwah Islamiyah yang berkembang telah menjadi ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan). Hal ini terlihat dalam semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Ketika kolonialisme Belanda datang menjajah Nusantara, kita dapat melihat ukhuwah Wathaniyah yang menjadi dasar semangat kebangsaan," ucapnya.

JK menambahkan semangat kebangsaan atas prinsip Islam ini yang akhirnya teraktualisasi dalam pembentukan NKRI.

"Semangat kebangsaan mendapatkan tempatnya yang sah di dalam ajaran agama Islam," katanya.

Gelar Honoris Causa diberikan UMI kepada Wapres JK dalam Ilmu Manajemen kekhususan bidang Pemikiran Ekonomi dan Politik Islam.

Keputusan pemberian gelar kepada JK dihasilkan melalui kajian serius dan mendalam anggota senat Universitas.

Gelar tersebut disematkan setelah mempelajari nilai dan mempertimbangkan gagasan semangat dan jasa JK , antara lain terkait dalam bidang pemikiran politik Islam di Indonesia.

Tag : islam, Wapres JK, nasionalisme
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top