Ideologi Transnasional dan Transaksional Ancaman Bagi NKRI

Ideologi transnasional dan transaksional tetap menjadi ancaman bagi NKRI sehingga harus terus diwaspadai.
Newswire | 22 Maret 2018 18:59 WIB
Layar menampilkan hasil survei lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) saat rilis hasil survei terkait NKRI dan ISIS di Jakarta, Minggu (4/6). Hasil survei tersebut menyatakan 79,3% warga negara Indonesia (WNI) tak setuju NKRI berubah menjadi khilafah. - Antara/Hafidz Mubarak A

Kabar24.com, JAKARTA - Indonesia harus berusaha sekuat tenaga agar tidak mengalami nasib seperti Surih, Irak, Libya, Yaman dan negara-negara lainnya yang tercabik.

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama PBNU KH Maman Imanulhaq mengatakan ideologi transnasional dan transaksional tetap menjadi ancaman bagi NKRI sehingga harus terus diwaspadai.

Menurut Maman, Kamis (22/3/2018), baik ideologi transnasional maupun transaksional sama-sama ingin menghancurkan Indonesia sebagai negara yang majemuk.

Dikatakannya, seluruh masyarakat harus betul-betul paham bahwa Indonesia sudah punya Pancasila, sudah punya bentuk NKRI, dan sudah sepakat soal Bhinneka Tunggal Ika.

"Itu sudah lebih dari cukup buat negara ini. Kita tidak ingin tercabik-cabik seperti Suriah, Irak, Libya, Yaman, dan negara-negara Timur Tengah lainnya," ujar Maman.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka, Jawa Barat itu menegaskan bahwa menjadi salah satu tugas ulama untuk mencegah perpecahan bangsa.

"Kalau dulu ulama berjihad dengan berjuang melawan penjajah, di zaman sekarang perjuangan ulama adalah memerangi kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan," tuturnya.

Mantan anggota DPR dari PKB ini menambahkan, sejak sebelum kemerdekaan, ulama Nusantara tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga cinta tanah air dan semangat untuk meraih kemerdekaan.

Tugas ulama di era sekarang adalah menguatkan kembali nilai-nilai Islam. Ditegaskannya bahwa Islam harus jadi spirit untuk perubahan dan perdamaian, bukan membuat teror atau menyebarkan ketakutan di mana-mana.

"Ulama tidak boleh mengajarkan kekerasan, intimidasi, caci maki, fitnah, apalagi menghancurkan kemanusiaan," kata Maman.

Sumber : Antara

Tag : nkri
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top