Rusia Ternyata Menyimpan & Memproduksi Zat Racun di Inggris

Menlu Inggris Boris Johnson mengatakan Rusia telah menyimpan dan memproduksi racun saraf yang digunakan untuk melumpuhkan mantan agen ganda Rusia di Inggris.
John Andhi Oktaveri | 18 Maret 2018 23:04 WIB
Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson - Reuters/Neil Hall

Kabar24.com, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan Rusia telah menyimpan dan memproduksi racun saraf yang digunakan untuk melumpuhkan mantan agen ganda Rusia di Inggris.

Inggris juga telah menyelidiki bagaimana senjata itu bisa digunakan untuk tindakan pembunuhan.

Seorang polisi yang bertugas dan berada di luar restoran saat kejadian telah diamankan untuk dimintai keterangan atas tindakan upaya pembunuhan dengan racun terhadap mantan intelijen Sergei Skripal dan putrinya, Yulia pada 11 Maret lalu.

Inggris menyatakan Rusia menggunakan racun saraf bernama Novichok semasa Uni Soviet untuk menyerang Sergei Skripal dan putrinya. Serangan semacam itu merupakan yang pertama terjadi di wilayah Eropa setelah Perang Dunia II berakhir. tetapi Rusia membantah keterlibatannya.

“Kami sebenarnya punya bukti bahwa selama 10 tahun Rusia tidak saja terpantau mengirim zat saraf untuk tujuan pembunuhan, tetapi juga memproduksi dan menyimpan Novichok,” ujar Johnson pada Minggu (18/3/2018).

Inggris dan Rusia sebelumnya saling usir 23 diplomat akibat serangan zat saraf dan hubungan kedua negara memburuk ke titik terendah setelah era Perang Dingin.

Sejumlah pejabat dari lembaga pengawas bahan kimia akan tiba di Inggris untuk menyelidiki sampel yang digunakan untuk melakukan serangan zat racun itu. Akan tetapi, hasilnya baru bisa diketahi setelah dua pekan, menurut Kementerian Luar Negeri Inggris.

Duta Besar Rusia untuk Uni Eropa Vladimir Chizhov mengatakan bahwa laboratorium riset Inggris bisa saja menjadi sumber diperolehnya zat saraf yang digunakan untuk melakukan serangan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia, inggris

Sumber : Reuters
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top