Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Multicon Indrajaya Terminal Tidak Mau Pailit, Ini Alasannya

Perusahaan terminal peti kemas PT Multicon Indrajaya Terminal berupaya keras untuk mencapai perdamaian di tengah kepailitan.
Deliana Pradhita Sari
Deliana Pradhita Sari - Bisnis.com 13 Februari 2018  |  16:18 WIB
Multicon Indrajaya Terminal Tidak Mau Pailit, Ini Alasannya
PT Multicon Indajaya Terminal - multcon.id
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan terminal peti kemas PT Multicon Indrajaya Terminal berupaya keras untuk mencapai perdamaian di tengah kepailitan.

Perusahaan menolak pailit karena masih mampu membayar utangnya.

Direktur PT Muticon Indrajaya Terminal (debitur) Hiendra Soenjoto mengatakan bahwa perdamaian merupakan satu-satunya jalan terbaik untuk menyelesaikan utang kepada para kreditur.

"Aset kami kalau dijual hanya 10% saja dari total utang. Jadi mau tidak mau kami harus beroperasi kembali untuk membayar kewajiban," katanya dalam rapat kreditur, Selasa (13/2/2018).

Menurut dia, tanpa perdamaian dan going concern, perusahaan tak akan sanggup melunasi seluruh utang.

Hiendra menuturkan perusahaan sudah setop operasi sejak diputus pailit 4 Mei 2017. Dia mengakui telah memberhentikan seluruh karyawan melalui pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu, seluruh pelanggan perusahaan diakui sudah mundur. Perjanjian dan kontrak sewa-menyewa juga hilang. "Oleh karena itu, perdamaian sangatlah diharapkan, tuturnya.

Lebih lanjut, Hiendra mengungkapkan perusahaan membutuhkan waktu untuk pemulihan pascaperdamaian selama 5 tahun. Pasalnya, pemulihan operasional membutuhkan waktu yang tidak singkat. Oleh sebab itu, pihaknya meminta untuk membayar utang pada tahun keenam setelah berdamai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pailit pkpu
Editor : Nurbaiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top