Trump Ancam Putus Bantuan Keuangan untuk Penentang Kebijakan soal Yerusalem

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam pemutusan bantuan keuangan kepada negara-negara yang mendukung resolusi PBB untuk menentang Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
John Andhi Oktaveri | 21 Desember 2017 14:12 WIB
Seorang pria membentuk siluet saat meniupkan Shofar, tanduk biri-biri, dengan latar belakang Masjidil Aqsa (kanan) yang berlokasi di Kota Tua Yerusalem yang dikenal dengan Baitul Maqdis, Minggu (10/12/2017). - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam pemutusan bantuan keuangan kepada negara-negara yang mendukung resolusi PBB untuk menentang Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Pada awal bulan ini Trump menyatakan Yerusalem adalah Ibu Kota Israel, walau sejak awal sudah dikecam dunia internasional dan belakangan memicu aksi unjuk rasa di sejumlah tempat.

"Mereka mengambil jutaan dolar dan bahkan miliaran dolar dan mereka memberi suara yang menentang kita," katanya kepada para wartawan di Gedung Putih sebagaimana dikutip BBC.com, Kamis (21/12/2017).

Trump menyatakan bahwa biarkanlah negara-negara tersebut bersuara menentang AS. Hal itu, ujarnya, akan membuat AS bisa menghemat banyak angarannya dan pihaknya tidak akan peduli.

Komentarnya disampaikan menjelang pemungutan suara di Majelis Umum PBB pada hari ini, Kamis (21/11/2017) untuk sebuah resolusi yang menentang pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Rancangan resolusi tidak menyebut Amerika Serikat secara khusus namun setiap keputusan tentang Yerusalem seharusnya dibatalkan.

Sebelumnya, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley memperingatkan negara anggota PBB bahwa Presiden Trump memintanya untuk melaporkan 'siapa yang menentang melawan kita' pada pemungutan suara pada Kamis waktu New York.

Status Yerusalam merupakan isu utama dalam konflik Israel-Palestina. Israel menduduki kawasan timur kota itu yang sebelumnya dikuasai Yordania saat Perang Timur Tengah tahun 1967. Negara Yahudi menganggap seluruh Yerusalem sebagai Ibu Kota yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Sementara, Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota negara masa depan. Berdasarkan Kesepakatan Oslo tahun 1993, status akhir kota itu akan ditetapkan dalam tahap perundingan damai Israel-Palestina.

Sebanyak 193 anggota Majelis Umum PBB akan menggelar sidang khusus yang tidak biasa atas permintaan negara-negara Arab dan negara Islam yang mengecam keputusan Presiden Trump.

 

Tag : Yerusalem
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top