Gaya Bondan Winarno ‘Maknyus’ Pimpin Koran 'Suara Pembaruan'

Pakar kuliner Bondan Winarno meninggal hari ini, Rabu (29/11/2017) di Rumah Sakit Harapan Kita.
Nancy Junita | 29 November 2017 13:06 WIB
Bondan Winarno - Facebook @Bondan Winarno

Kabar24.com, JAKARTA - Pakar kuliner Bondan Winarno meninggal hari ini, Rabu (29/11/2017) di Rumah Sakit Harapan Kita.

Bondan Winarno memang dikenal sebagai selebritas kuliner di Indonesia hingga negara lain. Dia menjadi presenter acara kuliner di stasiun televisi swasta di Indonesia hingga program kuliner di stasiun televisi asing.

Bondan Winarno memang tak lama memimpin redaksi ‘Suara Pembaruan, koran sore dari Cawang Jakarta Timur. Bondan Winarno menjadi pemimpin redaksi pada kurun waktu 2001-2003.

Pak Bondan, begitu pria kelahiran Surabaya pada 29 April 1950 ini dipanggil para awak redaksi. Ketika memimpin ‘Suara Pembaruan’ Pak Bondan membuat perubahan.

Dia membuat edisi akhir pekan ‘Suara Pembaruan’ menjadi lebih ‘soft’ dan tebal. Laporan seputar kuliner, kesehatan, mode dan gaya hidup menjadi fokusnya. Ketika itu, Pak Bondan menjadikan koran dari Singapura ‘Staits Times’ sebagai acuan.

Selain mengubah tampilan edisi akhir pekan ‘Suara Pembaruan’, Bondan yang dikenal sebagai penulis lepas di berbagai media massa ini, seperti Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Tempo, Mutiara, Asian Wall Street Journal, ini juga merombak penampilan ‘Suara Pembaruan’.

Seperti huruf, warna, foto, hingga cara pelaporan berita. Seingat saya, Pak Bondan membuat rubrik ‘Eksklusif’ di halaman depan ‘Suara Pembaruan’. Rubrik ini merupakan reportase mendalam para awak redaksi.

Melalui rubrik inilah awak redaksi bisa melakukan investigasi, serta laporan eksklusif lainnya. Untuk itu, awak redaksi ditugaskan melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Misalnya, melakukan reportase kasus HIV/AIDS di Papua, kasus malaria di kawasan Bukit Menoreh, Purworejo, dan Kulunprogo. Rubrik ini jadi tantangan bagi jurnalis.

Saat memimpin ‘Suara Pembaruan’ Bondan telah aktif di komunitas kuliner ‘Jalan Sutra’. Saat rapat ‘desk’, misalnya, Bondan kerap mengajak rapat sambil makan siang di luar kantor.

Bondan memang memiliki banyak referensi tempat makan. Pak Bondan juga mengetahui banyak soal bumbu, bahan makanan, cita rasa, dan manfaat bahan makanan yang digunakan.

Tak heran bila saya menulis soal kesehatan, manfaat bawang merah, misalnya, Pak Bondan akan komentar. Pak Bondan selalu membaca satu per satu artikel di koran. Dia sangat cermat dalam tata bahasa, baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.

Bila ada kesalahan penulisan, maka Pak Bondan akan memberi catatan di selembar kertas dan menempelkannya di komputer wartawan untuk dibaca.

Selain cermat dan piawai dalam Bahasa Inggris, Bondan yang pernah tinggal di Seattle Washington, Amerika Serikat, dan konsultan Bank Dunia di Jakarta ini kerap datang pagi.

Bekerja di koran sore memang membuat awak redaksi ‘Suara Pembaruan’ harus bekerja pagi hari. Rapat redaksi dilakukan pada jam 07.00 WIB dan siang pada jam 13.00 WIB. Sebagai komandan, Bondan Winarno sudah berada di kantor jam 06.00 WIB. Ketika itu, Bondan masih tinggal di kawasan Bintaro.

Ketika pindah ke Sentul City, Pak Bondan tetap datang pagi hari sebelum karyawan lain tiba.

“Kalau bangun siang rezeki dipatok ayam,” begitu jawaban Bondan jika ditanya kenapa datang pagi-pagi ke kantor.

Bondan Winarno juga getol memotivasi awak redaksi untuk lebih maju dan bersemangat bekerja. Dia juga memberi pujian untuk awak redaksi yang sukses, selain menegur jika melakukan kesalahan.

Selamat jalan Pak Bondan!

Tag : kuliner
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top