Investor Rumah Sakit Diminta ke Luar Denpasar dan Tabanan

Investor rumah sakit yang akan mendirikan usaha di Bali didorong untuk membangun fasilitas kesehatan di Jembrana, Klungkung dan Karangasem karena rasio kamar rumah sakit di tiga daerah itu masih kecil.
Feri Kristianto | 14 November 2017 16:52 WIB

Kabar24.com, DENPASAR—Investor rumah sakit yang akan mendirikan usaha di Bali didorong untuk membangun fasilitas kesehatan di Jembrana, Klungkung dan Karangasem karena rasio kamar rumah sakit di tiga daerah itu masih kecil.

Investor diharapkan tidak hanya membangun di Denpasar, Badung maupun Gianyar karena saat ini konsentrasi rumah sakit dan kamar di tiga daerah tersebut sudah sangat padat. Kadis Kesehatan Ketut Suarjaya menilai saat ini keberadaan kamar masih belum menyebar ke seluruh daerah.

“Semya tumplek di Denpasar Gianyar Badung dan Tabanan. Ada yang ke daerah tetapi jumlahnya masih kecil,” tuturnya, Selasa (14/11/2017).

Rasio kamar rumah sakit di Bali saat ini sekitar 1 dibanding 1.000 orang. Berdasarkan data Diskes Bali, total rumah sakit di seluruh Bali sebanyak 55 unit dengan 5.803 unit kamar. Jumlah tersebut belum termasuk RS Bali Mandara di Sanur, Denpasar yang baru saja didirikan oleh Pemprov Bali. Dari jumlah itu di Karangasem hanya dua RS dengan 258 kamar, di Jembrana ada 3 rumah sakit dengan 209 unit, sedangkan di Klungkung hanya terdapat dua RS dengan total kamar 189 unit.

Sementara di Denpasar ada sekitar lebih dari 10 RS berdiri dengan kamar mendekati 1.000 unit. Dari total kamar yang tersedia, untuk layanan kelas 2 dan 3 sebanyak 3.133 unit atau 54%, sedangkan VVIP dan VIP sebanyak 1.105 atau 19,04% dari total kamar. Meskipun pemerintah daerah sudah membangun rumah sakit, bahkan swasta ada yang mendirikan tetapi jumlah kamarnya dianggap belum sepadan jika dibandingkan dengan rasio jumlah penduduk di tiga kabupaten tersebut.

Kadis Kesehatan Bali Ketut Suarjaya menyatakan sebenarnya cukup banyak investor yang menyatakan minatnya berinvestasi bidang kesehatan di Pulau Dewata, khususnya investasi asing. Pihaknya menyarankan agar investor tersebut berani menanamkan modalnya di luar Tabanan dan Denpasar karena sudah sangat krodit.

Hanya saja, aturan kepemilikan asing untuk di sektor kesehatan masih sangat ketat dan nilainya sangat tinggi sehingga tidak mudah bagi pemodal luar negeri untuk masuk. Dia menuturkan bahwa pihaknya sangat mendukung swasta masuk berinvestasi rumah sakit di tiga daerah yang masih kekurangan dikarenakan sangat berpotensi.

Sebelumnya, Ketua Kadin Bali Anak AGung Ngurah Alit Wiraputra menyatkan pengusaha dari Jerman menjajaki investasi di bidang kesehatan di Bali sekaligus untuk mendorong wisata kesehatan ke Pulau Dewata. Delegasi pengusaha yang dipimpin Deputy Managing Director Ekonid Martin Krummeck menyampaikan mereka serius ingin membangun rumah sakit bertaraf internasional dan meningkatkan pendidikan pelayanan kesehatan di Pulau Dewata.

Rencananya, pengusaha Jerman itu bakal bermitra dengan pengusaha lokal untuk mewujudkan berbagai program investasi dan kerja sama. Adapun lokasi yang diinginkan berada di dekat pantai atau di daerah pegunungan. Rumah sakit yang akan dibangun, terutama ditujukan untuk keperluan perawatan para lanjut usia dan wisatawan mancanegara.

Sedangkan untuk pendidikan kesehatan, Jerman akan memfasilitasi pertukaran tenaga medis baik perawat maupun dokter untuk pelatihan ke Jerman. Selain itu juga akan dihadirkan para pengajar kesehatan Jerman ke Bali untuk berbagai pengalaman kepada tenaga medis setempat.

Kata Alit rombongan pengusaha Jerman ini juga melakukan peninjauan ke RS Sanglah Denpasar untuk melihat dari dekat fasilitas dan layanan kesehatan yang tersedia. Selain itu, bersama Inkindo sepakat mengerjakan penambahan fasilitas medis di RS Mangusadha, milik Pemkab Badung.

“Paling lambat tahun depan mereka akan memulai kegiatan investasi dan kami berharap bisa mendorong Bali menjadi destinasi baru bagi wisata kesehatan,” katanya.

Sementara itu Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Bali Dr Fajar Manuaba memaparkan investasi rumah sakit di Bali tidak mudah dan modal untuk kembali sangat lama. Salah satu penyebabnya dalam urusan belum adanya fasilitas pembuangan sampah medis sehingga harus menggunakan jasa perusahaan untuk dibuang ke luar daerah.

Kondisi itu menyebabkan rumah sakit akan boros akibat dana untuk membuang sampah medis sangat besar. Menurutnya, banyak investor yang memilih menunggu kebijakan dari pemda dan pemerintah pusat dengan kondisi saat ini. Dia menilai growth tinggi investasi rumah sakit di Jawa dan Sumatra.

Tag : denpasar
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top