Perayaan Idulfitri Bisa Dongkrak Produktivitas

Sepanjang sejarah peringatan Hari Raya Idulfitri menjadi perhelatan akbar bagi bangsa Indonesia. Pada Idulfitri 1438 Hijriah kali ini diharapkan terjadi transformasi nilai dan spirit untuk kemajuan bangsa, utamanya meningkatkan produktivitas.
Nancy Junita | 25 Juni 2017 08:10 WIB
Pendiri lembaga pendidikan Euro Management Indonesia Bimo Sasongko - Istimewa

Kabar24.com, JAKARTA – Sepanjang sejarah peringatan Hari Raya Idulfitri menjadi perhelatan akbar bagi bangsa Indonesia. Pada Idulfitri 1438 Hijriah kali ini diharapkan terjadi transformasi nilai dan spirit untuk kemajuan bangsa, utamanya meningkatkan produktivitas.

Menurut pendiri lembaga pendidikan Euro Management Indonesia, Bimo Sasongko, Sabtu (25/6/2017) di Jakarta, menuturkan Ramadan mestinya menjadi daya ungkit produktivitas nasional. Bukan menyebabkan konsumerisme, pemborosan dan membuang waktu kerja.

Mudik Lebaran yang berubah bentuk menjadi tradisi yang universal seharusnya bernuansa tidak sekedar bermuatan artikulasi fisik, tetapi dapat ditransformasikan secara budaya menjadi mudik rohani yang memberikan spiritual dan berbuah etos kerja yang didorong semangat kompetisi global dalam berbagai bidang.

Mudik lebaran dianalogikan sebagai ziarah budaya menuju kampung halaman rohani untuk menyerap energi guna bersaing secara lokal maupun global. Alangkah luar biasa perhelatan akbar yang bernama mudik yang telah menjadikan perpindahan ratusan juta massa dan ratusan triliun dana segar dari kota menuju perdesaan. Nuansa yang mendominasi wajah para pemudik tiada lain adalah keceriaan dan kegembiraan yang menyimpan dahaga dan ingin mereguk rasa kangen kepada kampung halaman rohaninya.

Dari sisi lini waktu, mudik adalah segmen pendek dari waktu kerja selama setahun. Namun waktu mudik yang relatip singkat itu harus berbuah hikmah yang berlimpah untuk memulihkan energi jiwa. Alangkah baiknya jika ritual mudik ditranformasikan menjadi nilai daya saing di medan kerja.

Menurut Bimo, para pemudik sebetulnya merupakan eksponen-eksponen kecil dari sebuah kolektivitas. Dari kolektivitas kampung, desa, kota, pulau, provinsi hingga menjadi sebuah kolektivitas kebangsaan. Semua bergerak menuju fitrah yang sama, yakni harkat kemanusiaan dan keadilan sosial. Dalam predikat sosial yang sangat beragam, dari kaum buruh, pedagang, aparatur negara, guru, hingga pejabat pemerintah, semuanya ingin dimuliakan secara tulus.

“Kolektivitas kebangsaan mestinya bisa menghasilkan sinergi yang hebat jika terkait dengan daya saing dan produktivitas. Faktor nonteknis untuk menggenjot produktivitas bangsa adalah mengartikulasikan tri-ukhuwah kebangsaan yang lahir dari nilai keislaman, yakni mengembangkan sikap persaudaraan bukan hanya dengan sesama kaum Muslimin (ukhuwah Islamiyah), melainkan juga dengan sesama warga bangsa yang lain (ukhuwah wathoniyah) serta dengan warga dunia manapun tanpa diskriminatif (ukhuwah basyariyah). Tri-ukhuwah tersebut diharapkan dapat menjadi pegangan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi persaingan global yang makin sengit,” jelas Bimo.

Produktivitas

Libur panjang telah menguras sumber daya keluarga. Dimensi liburan panjang juga menjadi cermin etos kerja bangsa. Dalam kamus etos kerja diartikan sebagai doktrin kerja yang diyakini oleh warga bangsa sebagai wujud nyata dalam perilaku kerja keras mereka.

Dari aspek ideologi bangsa, etos kerja itu harus dimulai dengan kesadaran akan pentingnya arti tanggung jawab kepada masa depan bangsa dan negara. Tanpa orientasi ke depan seperti itu sulit terwujudnya kemakmuran.

Nilai dan spirit Idulfitri harus bisa merubah mentalitas bangsa dan ranah psikososial, alam kehidupan para buruh dan birokrat di negeri ini setelah lebaran harus lebih mencintai pekerjaan atau tidak boleh mengeluh setiap hari.

“Banyak pihak yang setuju bahwa pekerja dan birokrat di Indonesia hinggi kini sebagian besar belum mencintai pekerjaanya setulus hati alias memiliki integritas yang masih rendah,” tukas Bimo.

Dikatakan, spirit Idulfitri relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang kekurangan jumlah wirausahawan. Ramadan telah membuka banyak lapangan berusaha dan mendorong warga untuk mencetak bermacam produk dan jasa. Bulan Puasa menanamkan budaya berwirausaha di kalangan warga bangsa untuk mengejar ketertinggalan dengan negara lain.

Bimo menambahkan, Ramadan selama ini telah mentrasformasikan pelaku UMKM semakin kreatif dan ulet. Hal tersebut sangat relevan, karena peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) terhadap ekonomi bangsa-bangsa di dunia sangat penting.

Hal itu ditunjukan oleh Profesor Herman Simon dengan mengambil kajian ekonomi di beberapa negara. Ternyata UMKM merupakan jagoan tidak kentara yang mampu menjadi penyelamat ekonomi nasional. Prof. Hermann Simon adalah pemikir manajemen yang sangat berpengaruh setelah Peter Drucker. Dia pernah menjadi kepala European Marketing Academy.

“Saatnya mentransformasikan nilai bulan Ramadan dan spirit Idulfitri yang tergambar dalam gelombang besar mudik Lebaran menjadi faktor produktivitas.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lebaran

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top