PERTEMPURAN DI MARAWI : Hasil Penjualan Narkoba Danai Kelompok Maute

Militer Filipina menemukan markoba jenis methamphetamine alias sabu senilai US$2 juta hingga US$ 5 juta saat membersihkan Kota Marawi yang dikuasai pemberontak kelompok Maute.
Nancy Junita | 21 Juni 2017 08:44 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memegang uang peso Filipina untuk pengungsi Marawi saat berkunjung ke pusat Iligan City National School of Fisheries di Iligan City, Filipina pada tanggal 20 Juni 2017. - Reuters

Kabar24.com, MARAWI CITY -- Militer Filipina menemukan markoba jenis methamphetamine alias sabu senilai US$2 juta hingga US$ 5 juta saat membersihkan Kota Marawi yang dikuasai pemberontak kelompok Maute.

Temuan narkoba ini meningkatkan kecurigaan bahwa militan Islam yang melakukan pemberontakan didanai dari hasil jual beli narkoba. Saat pembersihan kota itu, tentara menemukan 11 kantong sabu dari rumah berlantai dua yang diyakini didiami kelompok militan Maute, pada Minggu (18/6/2017).

"Ini memperkuat temuan kami bahwa para teroris ini menggunakan obat-obatan terlarang," kata Mayor Jenderal Carlito Galvez, komandan militer Mindanao barat.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yang melancarkan "perang melawan obat-obatan terlarang" setelah berkuasa setahun yang lalu, mengatakan bahwa para pejuang Marawi didanai oleh tuan-tuan obat bius di Mindanao, sebuah pulau seluas Korea Selatan yang telah mengalami penderitaan selama puluhan tahun dari bandit dan pemberontak.

Pertarungan di Kota Marawi meletus pada tanggal 23 Mei setelah serangan oleh pasukan keamanan ke tempat persembunyian Maute. Kelompok Maute terdiri dari orang-orang bersenjata yang setia kepada Negara Islam yang merebut jembatan dan bangunan, serta menyandera warga sipil di Marawi.

Duterte pun menanggapi pertempuran itu dengan mengumumkan darurat militer di Mindanao.

Pihak militer Filipina mengatakan hampir 350 orang, termasuk 257 gerilyawan, 62 tentara dan 26 warga sipil, telah tewas dalam empat minggu pertempuran.

Kelompok Maute telah melakukan sejumlah persiapan untuk menguasai Marawi, seperti menimbun senjata dan makanan di terowongan, ruang bawah tanah, masjid dan madrasah, atau sekolah Islam, kata pejabat militer.

Kumpulan uang kertas dan cek senilai sekitar US$ 1,6 juta juga ditemukan awal bulan ini di lokasi yang pernah didiami pemberontak.

Jo-Ar Herrera, juru bicara militer, mengatakan kepada media bahwa para militan juga menggunakan pesawat komersial untuk memantau pergerakan pasukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
marawi filipina

Sumber : Reuters
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top