BI: Ekonomi DIY Bakal Tumbuh 4,57% Pada Awal 2015

Bank Indonesia memprediksi perekonomian DIY pada triwulan I/2015 bakal tumbuh sebesar 4,57%0,5% year on year (y-o-y).
Muhammad Khamdi
Muhammad Khamdi - Bisnis.com 17 Maret 2015  |  13:38 WIB
BI: Ekonomi DIY Bakal Tumbuh 4,57% Pada Awal 2015
Bank Indonesia memprediksi perekonomian DIY pada triwulan I/2015 bakal tumbuh sebesar 4,57%0,5% year on year (y-o-y). - JIBI

Bisnis.com,SEMARANG — Bank Indonesia memprediksi perekonomian DIY pada triwulan I/2015 bakal tumbuh sebesar 4,57%±0,5% year on year (y-o-y).

Proyeksi pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan IV 2014 sebesar 4,20% (y-o-y). Penopang pertumbuhan tetap didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat pasca penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan peningkatan ekspor. 
 
Kepala BI Perwakilan DIY Arief Budi Santoso mengatakan kontribusi pertumbuhan ekonomi diperkirakan berasal dari sektor pertanian dan industri pengolahan. Program swasembada pangan akan berdampak peningkatan investasi pemerintah pusat dan daerah untuk pembangunan berbagai infrastruktur, seperti irigasi dan penyediaan bibit, pupuk dan pestisida.
 
“Investasi akan dilakukan pada awal tahun. Makanya, perekonomian kami prediksi ekonomi DIY tumbuh 4,57%,” ujar Arief, Selasa (17/3).
Membaiknya perekonomian negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat (AS), ujarnya, diharapkan akan meningkatkan produksi industri tekstil, kulit serta furniture yang menjadi komoditas utama ekspor DIY. 
 
Selain itu, industri makanan dan minuman juga diperkirakan tumbuh sejalan dengan peningkatan konsumsi dan perbaikan daya beli masyarakat. 
 
Sementara risiko penurunan pertumbuhan diperkirakan berasal dari sektor penyedia akomodasi dan makanan-minuman seiring dengan melambatnya usaha Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) sebagai dampak pelarangan aparatur negara rapat di hotel. 
 
Inflasi triwulan I/2015 di DIY diproyeksikan menurun dibandingkan triwulan IV 2014 yang mencapai 6,59% (y-o-y). Penurunan tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari peningkatan stok pangan memasuki musim panen pada Maret-April, tren penurunan harga minyak dunia, penyesuaian tarif angkutan pasca penurunan harga BBM. 
 
Namun demikian terdapat risiko peningkatan tekanan inflasi yang berasal dari proyeksi peningkatan harga emas dunia, dampak lanjutan kenaikan tarif listrik terhadap biaya sewa rumah dan harga properti di DIY, serta peningkatan nilai tukar yang berdampak pada peningkatan harga pangan dan tarif listrik. Tren penurunan inflasi tersebut semakin mendukung prospek pencapaian sasaran inflasi 2015 yakni 41%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
, jogja

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top