Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Di Tangan Raja Abdullah, Rakyat Arab Saudi Nikmati Hasil Reformasi

Jumat dinihari, rakyat Arab Saudi khususnya dan umumnya umar Islam di seluruh dunia berduka mendalam atas wafatnya Raja Arab Abdullah bin Abdul Aziz dalam usia 90 tahun.
Redaksi
Redaksi - Bisnis.com 23 Januari 2015  |  14:22 WIB
Raja Arab Saudi Abdullah Bin Abdulaziz  - Reuters
Raja Arab Saudi Abdullah Bin Abdulaziz - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Roji’un (Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah Swt dan kita semua akan berpulang kepada-NYA”.

Jumat dinihari, rakyat Arab Saudi khususnya dan umumnya umar Islam di seluruh dunia berduka mendalam atas wafatnya Raja Arab Abdullah bin Abdul Aziz dalam usia 90 tahun.

Almarhum yang lahir ketika mobil pertama melewati jalanan berdebu Riyadh,  meninggalkan warisan modernisasi dalam bentuk reformasi sosial-ekonomi yang hati-hati.

Sang raja, menjadi penguasa Arab Saudi sejak 2006 namun sudah secara de facto menjadi penyelenggara negara satu dekade sebelumnya.

Setelah menunjuk dua pewaris, adik tirinya Sultan dan Nayef, Abdullah digantikan oleh Putra Mahkota Salman.

Pangeran Salman diperkirakan akan meneruskan upaya Abdullah selama dua dekade lebih untuk mendorong ulama konservatif yang berkuasa menerima perubahan hati-hati yang ditujukan untuk mendamaikan tradisi Islam dengan kebutuhan ekonomi modern.

Raja Abdullah lahir ditunggui sang ayah Raja Abdul Aziz Ibn Saud pada 1924, menurut Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington.

Ibu Kota Riyadh saat itu masuk kota oasis kecil yang dikelilingi dinding bata di pusat kerajaan yang miskin tapi berkembang cepat.

Ketika secara de facto menjadi pemimpin pada 1995 ketika pendahulunya King Fahd menderita stroke, dia dikenal para diplomat asing sebagai orang saleh dan konservatif yang punya ikatan kuat dengan suku Badui.

Namun reputasi itu kemudian pudar oleh semangat calon putra mahkota itu ketika dia berusaha mengendalikan kebiasaan keluarga penguasa dan masalah pengangguran pada pemuda dengan meliberalisasi ekonomi untuk merangsang pertumbuhan sektor swasta.

Kendati demikian, masalah keamanan domestik, kebijakan ekonomi populis dan kebijakan ekonomi luar negerinya mengecewakan sejumlah kelompok liberal Saudi.

Reformasi Bertahap

Setelah serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat dan kampanye Al Qaeda untuk menyerang orang Barat di kerajaan, dia mengingatkan ulama konservatif yang menyampaikan pesan intoleran di sekolah dan masjid-masjid.

"Negara ini terus maju, dengan pertolongan Allah, melalui reformasi yang bertahap dan telah dipelajari," kata dia, berjanji mengabaikan seruan "stagnasi dan imobilitas" dari kelompok konservatif dan kelompok liberal yang menyebut kebijakannya "menuju kegelapan dan petualangan sembrono."

Reformasi itu berjalan lambat dan hanya sebagian yang berhasil, tapi mereka mencondongkan kebijakan dinamis Saudi menuju perubahan gradual dan menjadikan Raja Abdullah sebagai pemimpin populer di kalangan anak-anak muda. Sekitar 60% populasi Arab Saudi berusia kurang dari 30 tahun.

Meski demikian Abdullah membiarkan sebagian besar sistem politik Arab Saudi tak tersentuh.

Selain memperkenalkan pemilihan untuk dewan kota yang hanya memegang sedikit kekuasaan nyata, satu-satunya reformasi politik yang dia lakukan adalah menetapkan dewan keluarga berkuasa untuk membuat suksesi kerajaan lebih teratur.

Raja Abdullah kukuh menentang demonstrasi pro-demokrasi di sejumlah negara tetangga pada masa  kebangkitan Arab, mencerminkan kekhawatiran kejatuhan sekutu lama bisa membuka peluang bagi pesaing regional Iran dan Al Qaeda.

Perintahnya untuk menghabiskan 110 miliar dolar AS untuk bantuan sosial, perumahan baru, dan pekerjaan baru membantu mencegah kegelisahan pro-demokrasi di Arab Saudi.

Dalam tahun-tahun belakangan, para aktivis yang menuntut perubahan melalui petisi harus berakhir di penjara, dan partai-partai politik serta demonstrasi publik dilarang.

Namun bahkan di antara warga Saudi yang menyeru "hari kemarahan" untuk memprotes kurangnya demokrasi, Raja Abdullah tetap populer.

Pengkritik keluarga berkuasa menyatakan itu karena belanja besar pemerintah selama pemerintahannya, periode dengan pendapatan minyak tinggi dalam sejarah.

Dalam keluarga kerajaan yang dikenal dengan kemewahan, kesukaannya mengasingkan diri dalam tenda di gurun membedakannya dengan bangsawan-bangsawan Saudi yang lebih suka menghabiskan musim panas di istana Mediterania.

Salah satu dari tindakan pertamanya sebagai raja adalah mengendalikan belanja keluarga kerajaan, menuntut para bangsawan mulai membayar biaya telepon dan tiket pesawat dan tidak memperlakukan lembaga negara sebagai layanan parkir.

Ketika mengunjungi warga Saudi yang hidup di tempat kumuh setelah menjabat sebagai raja, dia dipuji karena mengakui kepada publik bahwa kemiskinan ada di negaranya.

Perbaiki Nasib Perempuan

Dia juga berupaya memperbaiki nasib perempuan, menawarkan pendidikan yang lebih baik dan prospek pekerjaan dan menyatakan mereka akan diizinkan berpartisipasi dalam pemilihan umum kota pada 2015.

Dia mengatakan perempuan akan dipilih menjadi anggota Dewan Syuro selanjutnya, badan yang menjadi penasihat pemerintah dalam pembuatan hukum baru.

Perempuan masih dilarang mengemudi dan harus mendapat persetujuan dari "penjaga" pria untuk bekerja, melakukan perjalanan ke luar negeri, membuka rekening bank dan menjalani operasi dalam sejumlah kasus.

Dalam tahun-tahun belakangan, kebijakan luar negeri raja difokuskan pada upaya untuk mencegah apa yang dalam kerajaan Sunni dilihat sebagai peningkatan pengaruh kekuasaan Muslim Syiah Iran di Timur Tengah.

Kebijakan itu mencapai titik tertinggi pada Maret 2011 ketika Arab Saudi mengirim pasukan ke Bahrain untuk mendukung pulau monarki Muslim Sunni itu melawan mayoritas Syiah.

Keputusan itu tidak populer di antara minoritas Syiah di Arab Saudi, tapi beberapa pemimpin sekte di kerajaan mengatakan Raja Abdullah melakukan lebih banyak dibanding pendahulunya untuk mengurangi diskriminasi, demikian seperti dilansir kantor berita Reuters.(ant/yus)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Raja Abdullah wafat Raja Arab Saudi

Sumber : Newswire

Editor : Yusran Yunus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top