Warga Bali Bebas Bicara Apa Saja di 'Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja'

Pemprov Bali memberikan ruang kebebasan tambahan bagi masyarakat dengan menyediakan sebuah mimbar yang dinamakan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 02 November 2014  |  15:02 WIB
Warga Bali Bebas Bicara Apa Saja di 'Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja'
Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar. - Bisnis.com

Bisnis.com, DENPASAR - Pemprov Bali memberikan ruang kebebasan tambahan bagi masyarakat dengan menyediakan sebuah mimbar yang dinamakan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar.

Podium yang terdiri dari mimbar kecil dan terdapat pengeras suara itu hanya dibuka setiap Minggu pagi, mulai dari pukul 08.00-10.00 WIB.

“Saya harap apa yang disampaikan di podium ini dapat dipertanggungjawabkan dan tidak berbau SARA, siapa saja yang mungkin kebetulan lewat dan ingin ngomong langsung saja naik ke podium ini, tinggal gantian saja, tidak ada yang mengatur,” ujar Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat meresmikan podium itu, Minggu (2/11/2014).

Menurutnya, setiap keluh kesah warga melalui podium itu akan dicatat oleh seorang pegawai untuk diteruskan kepada Pemprov Bali. Ini merupakan salah satu media komunikasi yang dibuka oleh Pemprov Bali selain simakrama yang sudah rutin dilaksanakan dari sejak beberapa tahun yang lalu.

Kendati baru dibuka, masyarakat mulai menggunakan podium tersebut. Tercatat sebanyak 11 orang, mulai dari ibu rumah tangga, remaja, aktivis lingkungan, seniman, hingga pimpinan redaksi salah satu media pun turut ikut ambil bagian dalam menyampaikan aspirasi di podium tersebut.

Permasalahan yang disampaikan tidak hanya masalah pemerintahan, politik sosial dan budaya, tetapi permasalahan pribadi yang bersifat umum pun juga disampikan dalam podium ini.

Salah satu warga Pasti Arini menumpahkan kekesalannya mengenai keterlambatan layanan bus Trans Sarbagita. Menurutnya, keterlambatan kedatangan bus hingga dua jam menyebabkan pekerjaannya sebagai pengajar dan pekerja hotel terhambat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, hak asasi manusia, kebebasan pers

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup