Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KRISIS UKRAINA: Disanksi Barat, Rusia Dekati China

Sanksi isolasi terhadap Rusia yang meningkat terkait krisis Ukraina, membuat Rusia mengalihkan pandangan dari Barat ke China
Arys Aditya
Arys Aditya - Bisnis.com 17 Mei 2014  |  01:05 WIB
KRISIS UKRAINA: Disanksi Barat, Rusia Dekati China
Referendum di Krimea - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA-Sanksi isolasi terhadap Rusia yang meningkat terkait krisis Ukraina, membuat Rusia mengalihkan pandangan dari Barat ke China.

Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan berkunjung ke China minggu depan, yang sejauh ini tidak nampak memihak siapapun dalam konteks Ukraina.

Presiden China Xi Jinping sendiri telah menyatakan bahwa hubungan dengan Moskwa sangatlah penting, yang dibuktikan dengan kunjungan luar negeri perdana ke Rusia setelah duduk sebagai China-1.

Namun, hal itu mentah kembali ketika pada saat sidang Dewan Keamanan PBB, saat China memutuskan abstain dalam pemungutan suara, menegaskan bahwa China tidak memihak siapapun dalam krisis Ukraina.

Pakar China-Rusia asal CAST (Badan Riset Rusia) Vasily Kashin menjelaskan, Rusia ingin memperkokoh hubungan dengan China saat Barat memutuskan untuk merenggangkan relasi.

"Prospek hubungan dengan Barat tidak jelas karena krisis Ukraina. Kami sedang menghadapi tekanan ekonomi dan di wilayah keamanan dan sanksi," ujarnya seperti dikutip Reuters, Jumat (16/5/2014).

Dia menambahkan, satu-satunya kekuatan ekonomi utama yang independen dan telah menolak sanksi terhadap Rusia adalah China.

"Saya pikir Putin berharap meraih dukungan China dalam krisis Ukraina. Sebab AS, Barat, telah membuat masalah di Ukraina dengan menuding Rusia. Dan mereka tidak hanya mengincar Rusia," papar Liu Guchang, mantan Dubes China untuk Rusia.

Dia menjabarkan, strategi global AS dan Barat adalah kembali pada Perang Dingin. Setelah Rusia dibereskan, katanya, AS dan Barat akan mengincar Asia Tengah dan China dengan menggunakan Jepang.

Nilai perdagangan antara China dan Rusia sendiri telah berlipat ganda dalam 5 tahun belakangan, serta mencapai titik puncak menembus angka US$89 miliar pada 2013.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ukraina kerusuhan ukraina
Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top