Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diguyur Hujan, Ribuan Warga Ikuti Kebaktian Terakhir Mandela

Ribuan rakyat Afrika Selatan berduyun-duyun menuju stadium terbesar negara itu di tengah guyuran hujan untuk mengikuti prosesi kebaktian terakhir pada Nelson Mandela yang merupakan salah satu dari tiga acara prosesi pemakaman yang setara dengan keramaian pada saat pemakaman Presiden John F. Kennedy.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 11 Desember 2013  |  08:57 WIB
Diguyur Hujan, Ribuan Warga Ikuti Kebaktian Terakhir Mandela
Nelson Mandela - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA  - Ribuan rakyat Afrika Selatan berduyun-duyun menuju stadion terbesar negara itu di tengah guyuran hujan untuk mengikuti prosesi kebaktian terakhir terhadap almarhum Nelson Mandela.

Acara kebaktian itu merupakan salah satu dari tiga acara prosesi pemakaman yang setara dengan keramaian pada saat pemakaman Presiden John F. Kennedy.

Para pemimpin dunia termasuk Presiden Barack Obama dan pemimpin dari Brasil serta India memberikan penghormatan terakhirnya kemarin dalam satu acara kebaktian di FNB Stadium yang berada di kota Soweto, sebuah kota kecil di selatan Johannesburg.

Mandela, yang meninggal 5 Desember pada usia 95 tahun, menjadi presiden pertama di Afrika Selatan dari golongan kulit hitam pada 1994.

Mandela terakhir kali tampil di depan publik saat membuka piala dunia 2010. Tokoh anti-apartheid itu juga sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tokoh pencinta pakaian batik.

“Kami sangat berterima kasih pada Mandela yang telah membawa kemajuan pada negara kami,” ujar F.W. de Klerk, presiden terakhir dari golongan kulit putih yang juga pernah menerima Hadiah Nobel bersama Mandela sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (11/12/2013).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apartheid nelson madela

Sumber : Bloomberg

Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top