TOKYO—Perekonomian Jepang nyatanya bertumbuh melebihi perkiraan awal pemerintah pada kuartal I/2013, sehingga menambah optimisme terhadap agenda Perdana Menteri Shinzo Abe untuk mengatasi deflasi berkepanjangan.
Kantor Kabinet Jepang mengumumkan pada Senin (10/6/2013) produk domestik bruto (PDB) bertumbuh pada level tahunan 4,1%, dibandingkan dengan perhitungan awal pada level 3,5%.
PDB nominal—yang tidak menyesuaikan dengan perubahan harga—naik 0,6% dari 3 bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut menjadikan perekonomian menyusut 7% dibandingkan dengan periode yang sama pada 1997 lalu.
Selain PDB yang meningkat, saham Jepang juga melonjak sehingga membantu upaya Abe untuk mempertahankan momentum selagi pemerintah menerapkan ‘panah ketiga’ dalam Abenomics. ‘Panah ketiga’ yang dimaksud Abe adalah strategi pertumbuhan yang dijalankan bersamaan dengan stumulus moneter dan fiskal.
Sementara para pejabat Bank of Japan (BoJ) mengadakan pertemuan pada 10-11 Juni, langkah kebijakan mereka kemungkinan akan terhambat oleh keputusan Gubernur Haruhiko Kuroda untuk menghindari langkah inkremental setelah menerapkan pelonggaran pada April.
“Inilah yang dibutuhkan Abe untuk perubahan struktural besar-besaran tahun ini,” jelas Martin Schulz, ekonom Fujitsu Research Institute di Tokyo,seperti dikutip Bloomberg.
Dengan adanya peningkatan pajak konsumen tahun depan, lanjut Schulz, perekonomian tengah berada pada ‘titik manis’ yang memberi pemerintah pandangan untuk mencapai agenda pertumbuhannya setelah pemilu pada Juli.
Dalam sebuah pernyataan terpisah, Kementerian Perdagangan menyampaikan surplus transaksi berjalan Jepang pada April adalah 750 miliar yen (US$7,6 juta). Didorong oleh pendapatan investasi, surplus tersebut bernilai lebih dari dua kali lipat dari perkiraan median para analis sebesar 350 miliar yen.
Indeks Topix melesat 4% pada Senin pagi di Tokyo. Indeks tersebut merosot 6,9% pada 23 Mei, sebagai bagian dari volatilitas pasar yang juga menguatkan obligasi dan nilai tukar. Hal tersebut berpotensi menghambat kepercayaan terhadap upaya pemerintah dalam menstabilkan perekonomian.
Data yang dirilis pada Senin juga menunjukkan investasi modal merosot 0,3% pada kuartal pertama dari 3 bulan sebelumnya, dibandingkan dengan proyeksi awal pemerintah sebesar 0,7%. Permintaan domestik, sementara itu, naik 0,6% melebihi perhitungan awal sebesar 0,5%.