MAHASISWA UGM berhasil kembangkan PENGHEMAT BBM

 
Adhitya Noviardi | 20 April 2012 17:33 WIB

 

JAKARTA: Tim mahasiswa Univeristas Gajah Mada berhasil mengembangkan konverter mobil gas. Alat tersebut bisa menghemat pemakaian bahan bakar mobil hingga 30%.

 

Teknologi yang dikembangkan sejak 2009 itu, diterima oleh Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, hari ini, di halaman parkir Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

 

Mobil sedan tersebut dibawa langsung dari Yogyakarta menuju Jakarta.

 

Mobil yang menggunakan bahan bakar Compressed Natural Gas (CNG) ini juga dipamerkan dalam ajang pameran Kampus UGM di Jakarta. 

 

Teknologi hasil karya anak bangsa itu, ternyata juga berhasil mengembangkan konverter untuk hidrogen, mesin disel, dan sepeda motor.

 

Melihat hasil inovasi ini, Menristek akan terus berupaya meningkatkan insentif untuk Ristek.

 

"Mobil berbahan bakar gas ini, diharapkan menjadi jawaban atas rencana pemberlakuan pembatasan penyaluran bahan bakar minyak bersubsidi. Ini bukti bahwa anak bangsa mampu membuat teknologi konverter pada mobil gas," kata Gusti, sambil melihat satu persatu mobil berbahan bakar nonminyak tersebut.

 

Muhammad Bastiansyah, mahasiswa Fak. Teknik Industri UGM salah satu tim pembuat konventer, menuturkan cara kerja alat presure regulator pada mobil gas UGM ini cukup sederhana.

 

Berawal dari tabung gas bertekanan 200 bar, yang diletakkan di jok belakang mobil. Gas lalu disalurkan ke bagian mesin di depan.

 

"Melalui konterver yang ada, tekanan dapat diturunkan menjadi 2-3 bar, sebelum akhirnya masuk ke bagian injeksi gas dan manipol. Tenaga gas ini bisa diubah dengan bahan bakar bensin, ketika berjalan atau dalam kecepatan tinggi," ujarnya.

 

 

Dia menuturkan penggunaan CNG lebih hemat sekitar 20% dibandingkan dengan premium. Pemakaian 1 lsp gas dapat menempuh jarak 12 km. Dalam penelitian tim UGM, konverter kit yang dipasang pada mobil bermesin 1600 CC, mampu melaju dengan kecepatan 120 km per jam.

 

Menristek menambahkan dia optimis mobil berbahan bakar gas ini dapat diproduksi secara massal. Penggunaan BBG dapat meningkatkan ketahanan energi nasional. Emisi gas buang BBG juga lebih bersih dan ramah lingkungan.

 

"Harganya yang lebih murah 40-45% dibanding BBM, sehingga dapat mengurangi beban subsidi negara," ungkapnya.

 

Menurut Gusti, teknologi ini sangat sesuai, apalagi diperkirakan 50 tahun ke depan sudah memasuki era penggunaan bahan bakar hidrogen.

 

Bastiansyah menambahkan harga satu paket peralatan CNG ini sekarang mencapai Rp15 juta-Rp20 juta. Namun, kalau sudah diproduksi massal harganya bisa lebih murah.

 

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top