Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

KPU Bantah Gelembungkan Suara PSI

KPU membantah tudingan sejumlah pihak terkait dugaan penggelembungan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Presiden Joko Widodo (jaket hitam) dan Ketua Umum PSI Kaesang (tengah) di Braga, Bandung, Sabtu (3/2/2024)./Doc. PSI
Presiden Joko Widodo (jaket hitam) dan Ketua Umum PSI Kaesang (tengah) di Braga, Bandung, Sabtu (3/2/2024)./Doc. PSI

Bisnis.com, JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) membantah tudingan sejumlah pihak terkait dugaan penggelembungan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Komisioner KPU RI Idham Holik mengungkapkan bahwa suara PSI naik karena terjadi kesalahan teknologi Optical Character Recognition (OCR) dalam proses pembacaan data dari foto formulir C. Hasil rekapitulasi suara di TPS yang diunggah petugas KPPS ke aplikasi Sirekap.

"Tidak ada terjadi penggelembungan suara, yang ada adalah ketidakakuratan teknologi OCR dalam membaca foto formulir model C. Hasil pleno," ujar Idham kepada wartawan, Senin (4/3/2024).

Oleh sebab itu, dia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat untuk menyampaikan apabila ada ketidakakuratan dalam Sirekap. Idham menyatakan, KPU sedang melakukan koreksi untuk memperbaiki data-data yang salah input dalam Sirekap.

Di samping itu, dia menggarisbawahi bahwa data di Sirekap tidak menjadi acuan dalam penentuan hasil Pemilu 2024. Hasil pemilu, lanjutnya, didasarkan hasil rekapitulasi suara berjenjang dari tingkat kecamatan hingga nasional.

"Yang jelas, KPU tidak pernah menyatakan bahwa hari ini sudah ada rekapitulasi sementara. Kami selalu menyatakan rekapitulasi secara berjenjang sedang berlangsung. Sekali lagi, kami sampaikan mari kita merujuk pada mekanisme formal dalam rekapitulasi perolehan suara," jelas Idham.

Sebagai informasi, Bisnis telah mencermati lonjakan suara PSI itu sejak tanggal 20 Februari 2024. Pada Senin pukul 06.00 WIB suara PSI masih di kisaran angka 2,54% dengan persentase suara yang masuk sebesar 57,94%. Angka itu cenderung stagnan sampai akhirnya pada tanggal 26 Februari 2024, pukul 04.00 WIB, suara PSI telah berada di angka 2,68%.

Sejak saat itu, suara PSI mulai secara simultan mengalami kenaikan yang cukup eksponensial. Hanya sehari berselang, suara PSI telah mencapai 2,75% atau secara persentase naik 0,87% hampir 1%. 

Tren itu terus berlangsung, pada tanggal 28 Februari suara PSI telah menembus angka 2,79%. Pada hari berikutnya, 29 Februari 2024, suara PSI di angka 2,85%. Puncaknya, pada tanggal 1 Maret, perolehan suara PSI telah menembus angka 3% dan semakin mendekati ambang batas parlemen atau parliamentary threshold di angka 4%.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menyatakan sedang menyelediki lonjakan suara PSI di Sirekap. Komisioner Bawaslu RI Lolly Suhenty menyadari banyak masyarakat yang mencurigai indikasi penggelembungan suara PSI secara sengaja sehingga kini pengawas di daerah sedang menyelidiki dugaan tersebut.

"Saat ini kami masih nunggu dari bawah. Tapi informasi yang masuk ke kami banyak sehingga dalam konteks ini Bawaslu mengkompilasi masukan-masukan yang masuk," ujar Lolly di Kantor KPU RI, Jakarta Pusat, Senin (4/3/2023).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper