Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Media Asing Soroti Joget Gemoy Prabowo vs Live Anies dan Ganjar di TikTok

Capres Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo berebut suara di TikTok menarik perhatian para pemilih muda.
Logo aplikasi media sosial TikTok yang dikelola oleh ByteDance./Bloomberg-Brent Lewin
Logo aplikasi media sosial TikTok yang dikelola oleh ByteDance./Bloomberg-Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA - Ketiga pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, yaitu Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo berebut suara di TikTok untuk menarik perhatian para pemilih muda. 

Mengutip Reuters, Selasa (13/2/2024) diketahui bahwa terdapat 125 juta pengguna platform TikTok di Indonesia, berada di urutan kedua setelah Amerika Serikat (AS). 

“TikTok adalah aplikasi yang paling menarik bagi pemilih pemula, sehingga memiliki pengaruh besar sebagai platform untuk berkampanye dan menyebarkan informasi terkait pemilu,” jelas peneliti yang pernah bekerja dengan TikTok pada isu-isu yang yang berkaitan dengan kepercayaan dan keamanan daring. 

Prabowo Subianto, yang disebut oleh Reuters sebagai tokoh militer yang dahulu ditakuti, telah mengubah citra dirinya menjadi seorang negarawan yang tamah. Gerakan joget 'Gemoy' Prabowo juga telah ditonton jutaan kali sehingga menginspirasi orang lain untuk menirunya. 

Lalu, ketika Prabowo menghadapi ‘kritikan pedas’ dari para pesaingnya saat debat, para pendukung perempuan kemudian membagikan video mengenai diri mereka yang menangisi calon Presiden nomor urut dua tersebut. 

Para pesaing, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo juga tampil di platform TikTok dengan menjawab pertanyaan secara live dan membagikan video pertemuan yang menyentuh hati dengan para pemilih.

Bidik Pemilih Gen Z 

Menurut survei pada Januari 2024 yang dilakukan oleh lembaga survei Indikator Politik Indonesia, selama masa kampanye, platform TikTok menjadi sumber informasi politik kedua yang banyak digunakan di masyarakat Indonesia, setelah televisi. 

Namun, para ahli kemudian juga menandai bahwa beberapa informasi tersebut mungkin salah. 

Peneliti komunikasi di Universitas Indonesia Endah Triastuti mengatakan bahwa karena konten tersebut, banyak pemilih muda mungkin tidak menyadari bahwa Prabowo telah terpaksa membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia selama masa jabatannya sebagai komandan pasukan khusus.

Adapun, gambar yang dimanipulasi dan video palsu 'deepfake' dari para kandidat juga telah beredar luas.

Pihak TikTok lewat situs webnya juga mengatakan bahwa ia memiliki kebijakan untuk menghapus informasi yang merugikan, dan bekerja dengan pengecek fakta untuk menandai atau menghilangkan prasangka tersebut. Iklan politik dan penggalangan dana juga dilarang di platform tersebut.

“Kami memprioritaskan perlindungan integritas pemilu di platform kami sehingga komunitas kami dapat terus menikmati pengalaman TikTok yang kreatif dan menghibur,” jelas juru bicara TikTok lewat email. 

Peneliti Anita Wahid juga mengatakan bahwa para pemilih muda lebih suka melihat kandidat menciptakan konten yang menyenangkan, yang menjelaskan daya tarik aplikasi TikTok dan keberhasilannya dalam pemilu kali ini. 

Menimbang hal tersebut, Anita berpendapat bahwa ini adalah ‘pertempuran’ yang baru untuk pemilihan Presiden di Indonesia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper