Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Citra Prabowo Gemoy dan Cerita Kampanye Bongbong Marcos di Filipina

Joget gemoy telah menjadi fenomena politik. Ada yang mengaitkan fenomena ini dengan tren di Pemilu Filipina 2022 lalu.
Pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka, saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu./Sumber: IG Prabowo Subianto.
Pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka, saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu./Sumber: IG Prabowo Subianto.

Bisnis.com, JAKARTA – Joget gemoy menjadi fenomena politik saat ini. Gemoy viral dan sangat populer di media sosial. Ada yang menyamakan fenomena 'gemoy' yang menjadi brand politik Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dengan Pemilihan Umum atau Pemilu Filipina 2022 lalu. 

“Model-model kampanye yang mirip-mirip dengan kasus di Filipina. Bongbong Marcos yang anaknya Ferdinand Marcos, otoritarian semacam Orde Baru dulu, bisa come back karena memanipulasi," Juru Bicara Timnas Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, Surya Tjandra, beberapa waktu lalu.

Pemilu Filipina sendiri telah menghasilkan pasangan presiden dan wakil presiden, Ferdinand 'Bongbong' Marcos dan Sara Duterte-Carpio. Bongbong Marcos adalah anak Presiden sekaligus diktator Filipina Ferdinand Marcos yang digulingkan oleh gerakan 'People Power' tahun 1980-an lalu. Sedangkan, Sara Duterte, adalah anak mantan Presiden Rodrigo Duterte.

Posisi Sara Duterte, mirip dengan Gibran Rakabuming Raka saat ini. Sara maju sebagai kandidat calon wakil presiden alias cawapres ketika ayahnya masih menjabat sebagai Presiden Filipina. Motivasi Duterte mengajukan anaknya sebagai cawapres selain masalah keberlanjutan, juga karena dirinya tidak bisa maju lagi sebagai presiden. Konstitusi Filipina hanya membatasi seorang presiden menjabat selama 1 periode atau 6 tahun.

Namun demikian, kemiripan antara Prabowo dan Bongbong pun tidak hanya sekadar strategi kampanye. Prabowo dan Bongbong sama-sama memiliki kedekatan dengan masa lalu kedua negara. Prabowo merupakan mantan menantu Presiden RI selama 32 tahun, Soeharto, sedangkan Bongbong adalah putra dari diktator Filipina selama 21 tahun yaitu Ferdinand Marcos. 

Karier politik praktis Prabowo dan Bongbong juga sama-sama diwarnai oleh keikutertaan dalam beberapa kali Pilpres. Prabowo sebelumnya pernah menjadi cawapres Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009, sebelum maju melawan Jokowi dengan didampingi oleh Hatta Rajasa pada 2014 dan Sandiaga Uno pada 2019. 

Adapun Bongbong pernah menjabat sebagai gubernur maupun anggota dewan perwakilan (parlemen), serta maju sebagai cawapres pada pemilihan 2016 silam.

Prabowo dan Bongbong juga sama-sama memilih anak dari Presiden petahana sebelumnya untuk menjadi cawapres. Prabowo memilih Wali Kota Solo Gibran Rakabuming alias anak Presiden Jokowi, sedangkan Bongbong mendapuk Wali Kota Davao Sara Duterte atau anak dari Presiden Rodrigo Duterte.

Bongbong Marcos sendiri berhasil memenangkan Pemilu Filipina karena strategi kampanye yang memanfaatkan kekuatan media sosial. Majalah Time pada tahun 2022 pernah membedah bagaimana Bongbong menggunakan TikTok untuk memoles citra rezim otoriter yang pernah dikuasai ayahnya. Kalau di Indonesia, mirip dengan kampanye “Kepiye Penak Jamanku To”, yang menampilkan sosok Presiden Suharto.

Di sisi lain, Dylan Salcedo, seorang data scientist di media berbasis Filipina, Rappler, pernah membedah strategi Bongbong menggunakan media sosial untuk melancarkan kampanyenya. Dylan mengungkapkan hal itu saat berbincang dengan sejumlah awak media di Jakarta beberapa waktu lalu. Selain TikTok, kampanye Bongbong juga disebut banyak menggunakan produk aplikasi media sosial maupun pesan instan dari Meta, seperti Facebook dan WhatsApp. 

Saat itu, Dylan menganalisis bahwa misinformasi maupun disinformasi dengan pesan instan WhatsApp akan lebih sulit untuk ditangani lantaran tidak mudah untuk diawasi. Diseminasi informasi dari satu pengirim pesan ke lainnya tidah mudah untuk diawasi secara terbuka seperti di Facebook, Instagram, atau Twitter. 

Adapun Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengakui citra 'gemoy' yang belakangan diusun Prabowo Subianto merupakan taktik untuk menggaet pemilih muda atau generasi milenial.

Dasco menjelaskan, pihaknya menyadari betul generasi milenial punya penilaian tersendiri untuk memilih calon pemimpin. Menurutnya, citra gemoy atau menggemaskan itu bisa menggaet para pemilih muda.

"Milenial itu memang punya sudut pandang sendiri tentang tata cara memilih pemimpin. Tentang pemimpin itu mereka punya pandangan sendiri. Ya kebetulan, tim kita bisa mengaplikasikannya," ujar Dasco, Selasa (17/11/2023).

Perubahan Gaya Prabowo

Cerita kesuksesan Bongbong di Filipina itu rupanya diduga direplikasi oleh pasangan Prabowo-Gibran dalam kontestasi politik 2024. Prabowo-Gibran menampilkan Gemoy dan sosialisasi politik dengan basis menggunakan artificial intelligence atau kecerdasan buatan.

Perubahan gaya Prabowo tidak serta merta dan instan. Cara berkomunikasinya yang lebih santai sudah dipupuk sejak bergabung ke pemerintahan Jokowi. 

Adapun Prabowo menggunakan media sosial untuk menjalin komunikasi dengan seluruh calon pemilih dari berbagai umur, tak terkecuali anak muda.

Misalnya, video joget "gemoy" yang pernah ditunjukkan Prabowo saat pengundian nomor urut di Komisi Pemilihan Umum (KPU) November 2023 lalu ramai di TikTok. Dengan tagar #gemoychallenge video joget Prabowo yang awlanya diunggah oleh akun TikTok Partai Amanat Nasional (PAN), pengusung Prabowo-Gibran, telah disukai sebanyak 12 juta kali. 

Video joget itu bahkan diproduksi ulang dengan mengajak sejumlah pejabat ikut bergoyang ala Prabowo. Video dengan tagar #jogetgemoy telah disukai lebih dari 755.000 kali. Dalam video tersebut, Menteri BUMN Erick Thohir, mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, serta Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menirukan joget Prabowo itu. 

Namun demikian, Prabowo bukan satu-satunya kandidat capres yang menggunakan media sosial untuk menggaet calon pemilih. Capres Anies Baswedan maupun Ganjar Pranowo sama-sama menggunakan seluruh saluran media sosial untuk memperbaiki citra diri, dengan berbagai bentuk. 

Tak ayal, berdasarkan catatan Bisnis, pengguna media sosial di Indonesia pada Februari 2023 sudah mencapai 167 juta orang atau mencapai 60,4% dari total populasi di dalam negeri pada 2023. 

Dilansir dari dataindonesia.id dan Laporan We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 167 juta orang pada Januari 2023.

Beda Prabowo Dulu dan Sekarang

Prabowo Subianto sudah banyak berubah. Anggapan dan sentimen publik itu pun seringkali disuarakan kembali oleh Prabowo. Perubahan itu dinilai tidak lepas dari upayanya berkontestasi memperebutkan kursi Presiden untuk keempat kalinya. 

Ketua Umum Partai Gerindra itu resmi kembali memasuki arena Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Dia memilih Wali Kota Solo Gibran Rakabuming sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendampingnya. 

Dari situ saja, Prabowo sudah terlihat seperti berbalik 180 derajat dari beberapa tahun sebelumnya. Dia memutuskan untuk memilih putra sulung mantan rivalnya selama dua kali Pilpres, yakni Joko Widodo (Jokowi). 

Persaingan Prabowo-Jokowi di 2014 dan 2019 pun masih berbekas di ingatan. Keduanya pun mengakui bahwa persaingan di dua Pilpres itu pun memicu pembelahan di masyarakat.  Masuknya Prabowo ke pemerintahan pun secara otomatis merubah konstelasi politik. Berbagai survei pun telah merilis perpindahan suara pendukung Prabowo dari kelompok Islam berpindah ke Anies Baswedan yang juga kini menjadi pesaingnya.  

Sebaliknya, loyalis Jokowi mulai dari Relawan Projo hingga Partai Solidaritas Indonesia atau PSI (yang mem-branding sebagai 'PSI Partai Jokowi), kini berbondong-bondong mendukung Prabowo. Pendukung Jokowi itu bahkan meliputi sejumlah aktivis pro reformasi 1998 seperti Budiman Sudjatmiko. 

Di sisi lain, gerak-gerik Prabowo dalam hal ucapan, tingkah laku, hingga gimmick juga berbalik 180 derajat usai memutuskan untuk merapat ke barisan Jokowi. Sejak saat itu, Prabowo pun mengaku sudah jarang berapi-api mengkritik secara langsung rival politiknya. Kini, Prabowo lebih memilih menyisipkan pesan kepada orang-orang yang bersebrangan dengan dirinya lewat sindiran hingga pantun.

Tak jarang, Prabowo bahkan berkelakar, misalnya menyebut soal kekalahannya melawan Jokowi. "Ada yang mengatakan, Pak Prabowo sudah berubah ya. Sekarang sudah banyak becandanya, tidak galak seperti dulu. Ya namanya sudah dua kali kalah," ujar Prabowo, dikutip dari YouTube PSI beberapa waktu lalu.

Dari sisi gaya komunikasi, sejak masuk ke kabinet pemerintahan, Prabowo semakin gencar mengincar ceruk pemilih muda. Utamanya, generasi Z atau Gen Z yang lahir sekitar 1997. Gaya berpakaian, celotehan, hingga gaya berkomunikasi media sosialnya pun sedikit demi sedikit disesuaikan untuk bisa berkomunikasi dengan anak muda. 

Belum lama ini, kubu Prabowo gencar mengasosiasikannya dengan istilah "gemoy" atau gemas. Aksi jogetnya dalam beberapa waktu belakangan menyita perhatian publik. Tim kampanyenya bahkan mendesain poster Prabowo-Gibran dengan desain animasi ala kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).    

Gaya busana Prabowo saat berkampanye dengan Gibran pada Pilpres 2024 pun bisa dibilang berbeda dengan tiga kali Pilpres yang pernah diikuti. Mantan Danjen Kopassus itu terkenal dengan busana baju safari berwarna putih atau krem yang kerap dikenakan saat berkampanye pada Pilpres 2009 dengan Megawati, maupun Hatta di 2014 dan Sandiaga di 2019.

Saat berkampanye dengan Gibran, misalnya pada foto resmi surat suara pasangan calon nomor urut 2, Prabowo dan Gibran kompak mengenak kemeja tangan pangan polos berwarna biru. Busana serupa pertama kali dipakai oleh Prabowo pada Pilpres kali ini, setelah sebelumnya lebih sering menggunakan kemeja putih, jas hitam dan kopiah.

Strategi Prabowo untuk menggaet anak muda juga tidak dilancarkan hanya dengan gimmick. Kubu pendukungnya pun terus mendorong narasi bahwa Gibran merupakan representasi anak muda. Salah satu program unggulan yang dijanjikan pun menyalurkan kredit untuk perusahan rintisan (startup) untuk generasi muda. 

Jika ditarik ke lima tahun yang lalu, siapa yang menyangka isu-isu tentang perusahaan rintisan bakal menjadi program utama dari Prabowo? Siapa yang tidak mengingat pertanyaan Jokowi ke Prabowo soal unicorn pada debat capres 2019?

"Infrastruktur apa yang akan Bapak bangun untuk dukung pengembangan unicorn-unicorn Indonesia?," tanya Jokowi lima tahun lalu. 

"Yang Bapak maksud Unicorn? Unicorn? yang apa itu online-online itu?," kata Prabowo, Minggu (17/2/2019).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Dany Saputra
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper