Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Peneliti Ungkap Penyebab Partai Islam Sulit Bersaing di Pemilu

Peneliti politik BRIN mengungkapkan tiga alasan partai politik Islam cenderung kalah bersaing dari partai politik nasionalis di Pemilu.
Peneliti Ungkap Penyebab Partai Islam Sulit Bersaing di Pemilu / Ilustrasi
Peneliti Ungkap Penyebab Partai Islam Sulit Bersaing di Pemilu / Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aisah Putri Budiarti menyebutkan tiga alasan partai politik Islam cenderung kalah bersaing dari partai politik nasionalis di beberapa pemilu terakhir.

Aisah mengatakan, partai Islam memang kerap hanya menjadi partai medioker dalam pemilu di Indonesia. Bahkan, beberapa kerap terancam kalah pemilu. Salah satu alasannya adalah suara pemilih Muslim yang terpecah.

“Pemilih Muslim cenderung terpecah menjadi pemilih banyak partai, tidak hanya ke partai Islam tetapi juga partai nasionalis,” jelas Aisah kepada Bisnis, Jumat (26/5/2023).

Dia berpendapat, hanya PKB yang masih lekat dengan pemilih Islam seperti warga Nahdlatul Ulama (NU) alias Nahdliyin karena sejarahnya. Meskipun demikian, dia meyakini tak semua Nahdliyin memilih PKB saat pemilu.

“Partai Islam gagal menumbuhkan pemilih loyalis yang secara khusus melekat dengan identitas partainya. Hal ini berbeda dengan partai nasionalis, misalnya PDIP dan Golkar yang memiliki basis pemilih loyalis terutama pada dapil-dapil [daerah pemilihan] tertentu,” ujarnya.

Alasan kedua, kata Aisah, tak ada tokoh populer yang menonjol secara nasional dari partai Islam. Menurutnya, tokoh partai Islam hanya terbatas pada kalangan pengurus partai dan pemilih loyalis yang jumlahnya terbatas.

“Tokoh populer umumnya lahir dari partai nasionalis, misalnya Jokowi dan Ganjar dari PDIP, Prabowo dari Gerindra, SBY dari Demokrat,” ungkap Aisah.

Ketiga, strategi yang gagal dari partai Islam. Aisah menilai partai Islam tak mampu melakukan kaderisasi yang baik dan menetapkan strategi kampanye yang tepat dalam setiap pemilu.

“Partai Islam cenderung stagnan menjadi partai kecil-menengah. Artinya partai Islam gagal menyusun strategi politik yang tepat untuk meraup suara dan tak efektif melakukan rekrutmen-kaderisasi politisi-politisi yang tepat untuk meraih voters [pemilih] yang loyal,” ucapnya.

Oleh sebab itu, Aisah berpendapat partai Islam itu harus lebih fokus pada proses rekrutmen hingga kaderisasi para politisi hingga mampu jadi tokoh-tokoh populer baik tingkat lokal sampai nasional. Dengan demikian, mereka akan punya basis pemilih loyalis di dapil-dapil tertentu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper