Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mengapa Hari Pendidikan Diperingati 2 Mei, Bukan 1 Agustus sesuai Hari Lahir Kiai Ahmad Dahlan?

Hari ini, Selasa 2 Mei 2023, Indonesia kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Tahukah kamu mengapa Hari Pendidikan Nasional dirayakan pada tanggal 2 Mei?
Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara

Bisnis.com, SOLO - Hari ini, Selasa 2 Mei 2023, Indonesia kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Nasional di Indonesia diperingati setiap tanggal 2 Mei sesuai dengan tanggal lahir Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Akan tetapi sejarah tak berkembang tanpa alasan logis. Mengapa Hari Pendidikan Nasional tidak diperingati setiap tanggal 1 Agustus seperti hari lahir pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan?

Padahal jika dirunut dalam sejarah pendidikan di tanah air, Muhammadiyah bahkan sudah lebih dulu sudah mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah 10 tahun lebih awal dari berdirinya Taman Siswa (1922).

Pada tahun 1911, Kiai Ahmad Dahlan telah lebih dulu mendirikan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1911 di Yogyakarta.

Kiai Dahlan juga mendirikan sekolah agama (Muallimin, Muallimat, Diniyah Ibtidaiyah, Diniyah Wustho, Sekolah Tabligh, Kuliyatul Muballighin) dan sekolah umum (Volkschool, Vervolg School, Normal School, Cursus Voor Volks Onderwijzer, HIS, Mulo, AMS, Hollandsch Inlandsche Kweekschool).

Pada zaman tersebut, pendidikan Muhammadiyah dikenal Gerakan Islam Modernis yang berasal dari elit agama kesultanan Ngayogyakarta.

Inilah mengapa pendidikan ala pesantren Muhammadiyah jarang tersentuh dan menyentuh pribumi kalangan bawah yang tidak berasal dari kalangan elit.

Pada fase awal berdiri, Muhammadiyah mencurahkan kegiataannya pada usaha–usaha pendidikan, tabligh/syiar nalar agama berkemajuan, sosial, dan literasi.

Maka dari itu, dibentuklah Hoofdbestuur bahagian Sekolah, Hoofdbestuur bahagian Tabligh, Hoofdbestuur bahagian Penolong Kesengsaraan Oemat dan Hoofdbestuur Pustaka.

Akan tetapi, perkembangan pendidikan ala Muhammadiyah mengalami kesulitan karena berbenturan dengan hirarkhi pemerintahan dan keagamaan baik ekstern dan intern Islam yang menolak ide–ide Islam modernis.

Muhammadiyah dan Taman Siswa

Belanda tidak terlalu suka dengan metode ajar Muhammadiyah yang fokus pada syiar dan dakwah Islam.

Belanda ingin pribumi mendapatkan pendidikan seperti yang mereka mau. Siapa yang pantas duduk di bangku sekolah juga dibatasi dengan ketat. Sebenarnya dalam hal ini, Belanda tidak ingin pribumi maju.

Karena Belanda adalah pihak yang lebih dekat dengan pemerintahan saat itu, maka keinginan mereka tentu menganggu perkembangan dari sekolah cetusan Muhammadiyah sendiri.

Bukan hanya itu, Pendidikan Nasionalisme Islam modernis ala Muhammadiyah dihadangkan dengan Nasionalis Jawa yang secara umum menolak model nasionalisme Islam. 

Siapa yang menjadi pencetus sekolah Nasionalis Jawa? ialah Suwardi Surjadiningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

Dilansir dari buku “Sejarah Indonesia Modern ”, menurut M.C Riklefs kehadiran Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara pada tahun 1922

Taman Siswa mmerupakan upaya penolakan terhadap gerakan Islam Pembaharuan Muhammadiyah melalui jalur pendidikan.

Keinginan Ki Hajar Dewantara dalam hal ini hanya satu yakni bermimpi agar sistem pendidikan baru yang bersifat lebih pribumi, non pemerintah dan non pendidikan Islam modernis.

Dan karena sistem pendidikan Ki Hajar Dewantara yang sejalan dengan nilai-nilai keragaman di Indonesia, maka bukan tanggal lahir Kiai Dahlan yang jadi Hari Pendidikan Nasional melainkan sang bapak pendidikan Nasionalis Jawa, Ki Hajar Dewantara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Halaman
  1. 1
  2. 2
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper