Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Rusia Sebut G7 Tidak Lagi Mendominasi G20

Rusia mengklaim deklarasi KTT G20 Bali menunjukkan kalau G7 tidak lagi mendominasi forum G20.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 30 November 2022  |  07:53 WIB
Rusia Sebut G7 Tidak Lagi Mendominasi G20
Sherpa G20 Rusia Svetlana Lukash mengklaim deklarasi KTT G20 Bali menunjukkan kalau G7 tidak lagi mendominasi forum tersebut. - TASS
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA –  Sherpa G20 Rusia Svetlana Lukash mengklaim deklarasi KTT G20 Bali menunjukkan kalau G7 tidak lagi mendominasi forum tersebut.

Dikutip dari TASS, Rabu (30/11/2022), dalam wawancara untuk Vedomosti. dia menganggap konsolidasi G7 untuk mengisolasi Rusia layaknya di forum internasional lain gagal.

"G7, tentu saja, lebih terkonsolidasi [dibandingkan dengan negara bagian G20 lainnya]. Mereka berkumpul terlebih dahulu dan membuat beberapa keputusan bersama seperti bagaimana mereka berniat mengabaikan seseorang. Tapi mereka gagal, dan deklarasi itu sekali lagi menunjukkan suara mereka tidak lagi mendominasi G20," kata Lukash.

Menurut dia, masalah utama yang membutuhkan konsensus untuk mengadopsi hasil deklarasi adalah situasi di Ukraina dan kesepakatan kesepakatan biji-bijian.

"Itu adalah dua elemen kunci dan, pada akhirnya, dua kunci kemenangan Rusia dan ekonomi berkembang," katanya.

Dia menggarisbawahi bahwa bahasa yang diadopsi sepenuhnya sesuai dengan kepentingan Rusia dan "tidak membiarkan suara Barat mendominasi."

Seperti diperkirakan para analis, isu Ukraina mendominasi KTT G20. Menurut deklarasi tersebut, G20 menyuarakan keprihatinan yang mendalam atas risiko ketahanan pangan global yang ditimbulkan oleh naiknya ketegangan akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Leaders' Declaration setebal 17 halaman itu, menyesalkan agresi Rusia terhadap Ukraina. Anggota G20 juga menuntut penarikan pasukan Rusia secara penuh dan tanpa syarat dari wilayah Ukraina.

Dalam deklarasi tersebut ditegaskan G20 memang bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan. Kendati demikian, anggota G20 mengakui masalah keamanan dapat memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap ekonomi global.

"Dokumen itu memang berisi kecaman, tetapi bukan terhadap Rusia, tetapi perang itu sendiri. Deklarasi Bali mengakui adanya perbedaan pendapat baik mengenai konflik di Ukraina maupun mengenai peran sanksi," Lukash.

“Sepanjang tahun ini, Barat berusaha membuktikan bahwa Rusia dan operasi militer khususnya harus disalahkan atas semua krisis yang sedang berlangsung di pasar pangan dan energi. Namun, teks deklarasi tersebut membuktikan sebaliknya,” Lukash menggarisbawahi.

Lukash mencatat, bahwa negara-negara tersebut telah menyatakan posisi mereka mengenai situasi di Ukraina, termasuk di Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB, yang memungkinkan untuk menghindari penilaian khusus atas konflik Ukraina oleh G20 itu sendiri.

Sementara itu, dikukuhkan bahwa tidak ada dominasi konsep Barat, yang menuduh Rusia melakukan semua proses negatif.

Dia menambahkan, deklarasi Bali mengakui adanya perbedaan pendapat baik mengenai konflik di Ukraina maupun mengenai peran sanksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KTT G20 g20 G7 Perang Rusia Ukraina
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top