Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Malaysia Tegang Usai Pemilu 2022, TikTok Siaga Tinggi

TikTok waspada konten yang melanggar pedomannya di Malaysia setelah pihak berwenang memperingatkan peningkatan ketegangan etnis setelah pemilu.
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creators Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019)./Bloomberg-Shiho Fukada
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creators Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019)./Bloomberg-Shiho Fukada

Bisnis.com, JAKARTA - Platform video pendek TikTok mengatakan pada Rabu (23/11/2022) pihaknya waspada terhadap konten yang melanggar pedomannya di Malaysia setelah pihak berwenang memperingatkan peningkatan ketegangan etnis di media sosial pasca pemilihan umum (pemilu) yang tidak meyakinkan.

Pemilu yang berlangsung Sabtu (19/11/2022), berakhir dengan parlemen “gantung” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pasalnya, tak satu pun dari dua aliansi saingan yang mampu mengamankan kursi yang cukup di parlemen untuk membentuk pemerintahan.

"Kami terus waspada dan akan secara agresif menghapus konten yang melanggar," kata TikTok, yang dimiliki oleh perusahaan ByteDance yang berbasis di China, dalam sebuah pernyataan seperti dilancir Channel News Asia.

Pihak TikTok mengatakan telah menghubungi otoritas Malaysia terkait pelanggaran berat dan berulang terhadap pedoman komunitasnya sejak menjelang pemilu.

Salah satu aliansi yang berharap untuk membentuk pemerintahan adalah kelompok muslim konservatif, sebagian besar etnis Melayu, yang dipimpin oleh mantan perdana menteri Muhyiddin Yassin.

Ini termasuk partai Islam PAS, yang mengadvokasi interpretasi ketat hukum agama Islam syariah. Perolehan elektoralnya telah menimbulkan kekhawatiran di negara dengan minoritas etnis Tionghoa dan etnis India yang signifikan, yang sebagian besar menganut agama lain.

Pemimpin oposisi veteran Anwar Ibrahim memimpin aliansi lain yang bersaing untuk mendapatkan kekuasaan, sekelompok partai yang lebih multietnis dan progresif yang mencakup Partai Aksi Demokratis, sebuah partai yang didominasi etnis Tionghoa yang secara tradisional tidak populer di kalangan pemilih dari mayoritas komunitas Melayu.

Halaman Selanjutnya
Ujaran Kebencian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nancy Junita
Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper