Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wapres AS Kamala Harris Kunjungi Pulau Dekat Laut China Selatan

Kamala Harris mengunjungi pulau barat Palawan, daratan Filipina terdekat dengan kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang diperebutkan.
Wakil Presiden AS Kamala Harris tiba di Paya Lebar Air Base, Singapore, pada Minggu (22/8/2021)/Bloomberg-Lauryn Ishak.
Wakil Presiden AS Kamala Harris tiba di Paya Lebar Air Base, Singapore, pada Minggu (22/8/2021)/Bloomberg-Lauryn Ishak.

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris mengunjungi sebuah pulau Filipina di dekat perairan Laut China Selatan yang diklaim oleh China pada Selasa (22/11/2022).

Harris mengunjungi pulau barat Palawan, daratan Filipina terdekat dengan kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang diperebutkan.

Beijing mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh laut itu dan telah mengabaikan putusan pengadilan internasional bahwa klaimnya tidak memiliki dasar hukum.

Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei juga mengklaim atas bagian-bagian dari laut itu. Adapun Harris akan bertemu dengan para nelayan dan anggota penjaga pantai Filipina.

Seorang pejabat AS mengatakan bahwa selama kunjungannya, Harris akan menyampaikan pentingnya hukum internasional, perdagangan yang sah tanpa hambatan dan kebebasan navigasi.

Perjalanan Harris ke Palawan itu dilakukan sehari setelah dia mengadakan pembicaraan dengan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos di Manila.

Dia menegaskan kembali komitmen AS untuk membela Filipina jika kapal atau pesawatnya diserang di Laut China Selatan, seperti dilansir dari Channel News Asia, dikutip Rabu (23/11/2022).

Washington memiliki aliansi keamanan puluhan tahun dengan Filipina yang mencakup perjanjian pertahanan bersama, Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) tahun 2014.

Perjanjian itu memungkinkan militer AS untuk menyimpan peralatan dan pasokan pertahanan di lima pangkalan Filipina, dan juga memungkinkan pasukan AS untuk melalui pangkalan militer tersebut.

EDCA terhenti di era mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, tetapi AS dan Filipina telah menyatakan dukungan untuk mempercepat implementasinya, karena China menjadi semakin kuat. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper