Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Xi Jinping Mesra dengan Biden, Berpaling dari Putin dan Kim Jong-un?

Xi Jinping adalah sahabat dekat bagi Vladimir Putin dan Kim Jong-un. Mereka saling dukung dalam bernegara. Bagaimana hubungannya setelah bertemu Joe Biden?
Hendri T. Asworo
Hendri T. Asworo - Bisnis.com 15 November 2022  |  08:55 WIB
Xi Jinping Mesra dengan Biden, Berpaling dari Putin dan Kim Jong-un?
Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden (kanan) berjabat tangan ketika melakukan pertemuan bilateral di sela-sela acara KTT G20, Bali, Senin (14/11/2022). - Bisnis/Youtube
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 menjadi momen bersejarah bagi Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping. Dua pemimpin negara adidaya dunia itu bertatap muka secara lansung, saling melempar senyum, dan berjabat tangan dengan erat.

Peristiwa ini pertama kali terjadi sejak Biden dilantik menjadi presiden Januari 2021. Pun dengan Jinping terpilih menjadi presiden ketiga kali pada Oktober lalu. Mereka sempat bertemu ketika Biden masih menjabat sebagai wakil presiden era Barrack Obama. Lebih dari lima tahun.

Informasi pertemuan Biden dan Jinping diterima kalangan media secara mendadak. Senin (14/11/2022) pagi, informasi itu beredar di media asing. Mereka akan melakukan pertemuan sore hari di Grand Hyat, Nusa Dua, Bali. 

Sekitar pukul 17.00 WIB mereka akhirnya bertemu. Diawali dengan sesi pertemuan di hadapan media, berlatar 6 bendera--3 bendera China dan 3 bendera Amerika--mereka tampak mesra berfoto bersama. "Senang bertemu dengan Anda," kata Jinping. 

Setelah itu, Biden dan Jinping melakukan pertemuan bilateral. Berdasarkan video yang beredar, rombongan Jinping tampak memakai masker saat melakukan bertemuan. Hanya Jinping yang tidak menggenakan masker. Begitu juga rombongan Biden tak bermasker semua.

Pertemuan mereka berlangsung cukup lama, nyaris 3,5 jam. Seusai pertemuan, Biden menggelar jumpa pers. Dia memaparkan materi pertemuan dengan Jinping. Semua isu sensitif dibahas, mulai dari Taiwan, perang Rusia-Ukraina, Korea Utara hingga penggunaan senjata nuklir.

Sikap terhadap Taiwan

Dalam jumpa pers itu Biden menyampaikan keyakinannya bahwa China tidak akan menempuh jalan konflik untuk menyelesaikan masalah Taiwan. Menurutnya, China siap bekerja sama dan berkompromi dalam berbagai masalah yang kerap menjadikan hubungan kedua negara berada dalam kondisi panas dingin.

"Saya tidak berpikir ada godaan dari pihak China untuk menyerang Taiwan dan saya menjelaskan bahwa kebijakan kami di Taiwan tidak berubah. One China policy tidak berubah dan kita menolak," tegas Biden.

Lebih lanjut, Joe Biden mengatakan dirinya dan Jinping sudah berdiskusi tentang apa yang menjadi masalah dan keberatan masing-masing negara mengenai Taiwan. Joe Biden pun menyakinkan dunia internasional jika tak ada upaya China menginvasi Taiwan.

"Kami telah terbuka satu sama lain, saya tidak merasa ada upaya segera China akan menginvasi Taiwan dan kami telah sepakat tentang aturan jika [posisi dan status] Taiwan tidak berubah," ujar Biden.

Hubungan dua negara ini memanas ketika China dikabarkan akan menginvansi Taiwan. Amerika pun mulai menambah armada perang di Taiwan hingga Korsel dan Jepang. Sikap itu sempat membuat kemarahan China hingga memutuskan tidak ada komunikasi di antara kedua negara itu.

Penggunaan Nuklir di Perang Rusia-Ukraina

Mengenai perang Rusia dan Ukraina, Biden dan Jinping sepakat menolak penggunaan senjata nuklir. Biden mengatakan kepada Jinping bahwa Rusia telah melakukan tindakan brutal dengan mengancam penggunaan senjata nuklir.

Keduanya pun kompak untuk menghindari perang nuklir. “Kami menggarisbawahi penentangan terhadap penggunaan atau ancaman penggunaan senjata nuklir di Ukraina,” ujar Biden.

Dalam kesempatan itu, Biden menyampaikan sikapnya bahwa AS akan terus memberikan kebutuhan kepada Ukraina untuk mempertahankan wilayahnya. Biden juga mengatakan jika belakangan ini kemenangan perang berada di pihak Ukraina.

"Kemenangan datang signifikan untuk Ukraina, saya tidak bisa melakukan hal lain selain tepuk tangan untuk keberanian militer Ukraina dan masyarakatnya. Kami akan tetap menyediakan hal yang bisa membantu Ukraina mempertahankan dirinya. Saya pastikan tidak ada negosiasi tentang Ukraina tanpa Ukraina."

 Sementara itu, Jinping mengungkapkan bahwa AS dan China berkeinginan untuk mengelola perbedaan dan mencegah persaingan menjadi konflik. "Saat ini hubungan China-AS berada dalam situasi sedemikian rupa sehingga kita semua sangat peduli karena ini bukan kepentingan fundamental kedua negara dan rakyat kita, dan bukan itu yang diharapkan masyarakat internasional [dari] kita,” kata Jinping.

Soal Uji Coba Rudal Korut 

Korea Utara juga sedang membuat AS pusing karena gencar melakukan uji coba rudal jarak jauh. Pada tahun ini lebih dari 80 rudal ditembakkan ke Pasifik. Padahal, pada dalam setahun biasanya tidak lebih dari 20 rudal. Bahkan, uji coba itu melintasi Hokkaido, sehingga membuat berang otoritas Jepang.

Serangan itu sendiri adalah wujud protes Korut atas latihan militer besar-besaran yang dilakukan AS dan Korea Selatan. Meski demikian, Joe Biden menegaskan jika dia akan meminta bantuan kepada China untuk 'menasehati' Korut.

"Soal Korea Utara, saya yakin China bisa mengontrol Korut. Xi Jinping punya kewajiban untuk berusaha untuk menyakinkan Korut untuk tidak terlalu terlibat soal nuklir. Kami sendiri juga akan mengirimkan pesan kepada Korea Utara," tambahnya.

Hubungan Jinping dengan Putin dan Kim Jong-un

Seperti diketahui hubungan Xi Jinping dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Korut Kim Jong-un sangat dekat. Tiga negara berhaluan komunis itu ibarat 'Three Musketeers' bagi dunia barat. Hubungan mereka bukan sekadar pertemanan biasa.

Bibit hubungan mesra mereka sudah disemai sejak Perang Dunia II. Rusia mendukung Korut saat perang dengan Korsel. Begitu juga ketika China berperang melawan Jepang-Barat, Rusia memberikan dukungan penuh.

Hubungan mereka kian erat ketika Rusia diganjar sanksi bertubi-tubi dari Barat, termasuk AS, karena menginvasi Ukraina. China datang membantu Rusia. Namun, bantuan tersebut tetap ada kepentingan nasional bagi China. Seperti membeli gas Rusia hingga produk pertanian lainnya.

Akan tetapi, hubungan Rusia dan China tetap diwarnai drama. Hubungan mereka sempat memanas. Pada Juni 2022, Putin dikabarkan sempat melontarkan makian pada Jinping. Hal itu dilakukan karena China dinilai tidak optimal dalam membantu Rusia saat terkena sanksi barat.

Intelejen Rusia sempat menyatakan Putin tidak puas dengan Jinping dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Hal itu disampaikan kepada Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov. 

Namun, hubungan mereka kembali romantis setelah melakukan pertemuan di Kota Samarkand, Uzbekistan pada 15 September 2022. Seperti dikutip dari Tempo, dalam pertemuan itu, Putin menghargai keputusan China yang memiliki netral dalam perang Rusia-Ukraina. Putin mengakui Beijing memiliki pertanyaan dan kekhawatiran atas invasi Rusia di Ukraina tersebut.

Pernyataan Putin diungkapkan saat bertemu langsung dengan Jinping untuk pertama kalinya sejak invasi pada pertemuan puncak regional di Uzbekistan. China sejauh ini menolak untuk mengutuk langsung serangan Rusia ke Ukraina itu. Namun China dan Rusia tetap menjalin hubungan dagang di tengah sanksi Barat.

“Kami sangat menghargai posisi seimbang dari teman-teman China kami sehubungan dengan krisis Ukraina. Kami memahami pertanyaan dan kekhawatiran terkait hal ini,” kata Putin dalam pidato pembukaan pertemuan tersebut.

“Dalam pertemuan hari ini, tentu saja, kami akan menjelaskan secara rinci posisi kami tentang masalah ini, meskipun kami telah membicarakan hal ini sebelumnya.”

Jinping mengatakan China akan bekerja dengan Rusia untuk memperluas dukungan timbal balik yang kuat pada isu-isu mengenai kepentingan inti masing-masing. China dan Rusia juga akan memainkan peran utama dalam menyuntikkan stabilitas dan energi positif ke dunia.

Setelah Jinping terpilih menjadi presiden ketiga kalinya, Putin dan Kim Jong-un pertama kali yang menyampaikan ucapan selamat. Apakah pertemuan dengan Biden akan mengubah formasi 'cinta segitiga' mereka?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Joe Biden xi jinping vladimir putin kim jong un g20
Editor : Hendri T. Asworo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top