Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terungkap! Penyebab Rusia Cuan Rp2.000 Triliun Setelah Serang Ukraina

Ternyata ini faktor penyebab Rusia cuan Rp2.000 triliun setelah serang Ukraina sejak Februari hingga saat ini.
Pasukan Rusia menggunakan tank dan senjata untuk membombardir kota-kota di Ukraina/Ukrinform.net
Pasukan Rusia menggunakan tank dan senjata untuk membombardir kota-kota di Ukraina/Ukrinform.net

Bisnis.com, JAKARTA - Rusia ternyata meraup cuan jumbo hingga Rp2.000 triliun, justru setelah Kremlin meluncurkan invasi atau perang Rusia vs Ukraina berlangsung sejak Februari 2022. 

Dilansir dari artikel Bloomberg yang tayang pada 11 Juli 2022, neraca transaksi berjalan Rusia secara kumulatif pada semester I/2022 tembus US$138,5 miliar atau setara dengan Rp2.064 trilun (dengan kurs Rp14.939 per dolar AS).

"Selama semester I/2022, surplus mencapai US$138,5 miliar [atau sekitar Rp2.000 triliun]," kata bank sentral Rusia dikutip dari Bloomberg, Senin (22/8/2022).

Bloomberg juga mencatat surplus neraca transaksi berjalan Rusia mencatat rekor US$70 miliar atau setara dengan Rp1,04 triliun pada kuartal II/2022.

Lantas, apa penyebab Rusia menorehkan surplus atau cuan jumbo setelah menginvasi Ukraina?

Ternyata, surplus neraca transkasi berjalan tersebut terjadi seiring lonjakan pendapatan dari ekspor energi dan komoditas asal Rusia. Seperti diketahui, Rusia merupakan salah satu negara penghasil gas alam dan minyak bumi yang terbesar di dunia. Rusia juga memiliki ladang gandum yang sangat luas. 

Ekspor energi dan komoditas unggulan asal Negeri Beruang Merah justru membantu mengimbangi dampak sanksi dari Amerika Serikat dan Eropa yang dikenakan atas invasi Presiden Vladimir Putin ke Ukraina.

Bloomberg menyebutkan surplus transaksi berjalan Rusia, khususnya dari perdagangan barang dan jasa, pada kuartal II/2022 menjadi yang terlebar sejak 1994, menurut data yang dirilis oleh bank sentral Rusia.

Penutupan keran impor yang didorong oleh sanksi berkontribusi pada surplus neraca transaksi berjalan Rusia selama awal 2022. Hal itu telah muncul sebagai jalur kehidupan ekonomi utama bagi Kremlin ketika AS dan sekutunya mencoba mengisolasi Rusia dari perdagangan global.

"Realisasi ekspor pada kuartal II/2022 tercatat US$153,1 miliar atau turun sedikit dari pada kuartal pertama. Impor juga turun menjadi US$$72,3 miliar dari sebelumnya US$88,7 miliar," tulis bank sentral Rusia.

Sejak meletusnya perang Rusia vs Ukraina, Rusia telah berhenti merilis data rinci tentang impor dan ekspor. Namun, arus perdagangan Rusia dapat diperkirakan dari angka yang dirilis oleh negara-negara mitra.

Pada Mei 2022, ada tanda-tanda impor telah stabil dengan lima negara yang menyumbang sekitar setengah dari perdagangan Rusia seiring ekonomi Negeri Beruang Merah tersebut beradaptasi dan bisnis mulai menemukan rute baru untuk pengiriman komoditas.

"Surplus transaksi berjalan yang melonjak, dikombinasikan dengan kontrol modal yang ketat yang membatasi permintaan valuta asing, telah membantu menjadikan rubel mata uang berkinerja terbaik tahun ini di antara rekan-rekan pasar berkembang," tulis Bloomberg.

Rusia Untung US$5 Miliar per Hari 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menilai bahwa Rusia mendulang keuntungan yang sangat besar akibat meletusnya perang Rusia vs Ukraina. Hal tersebut disampaikan oleh Sandiaga Uno dalam acara CEO Mastermind 7.

Cuplikan paparannya mengenai perang dan minyak Rusia diunggah dalam akun instagram miliknya @sandiuno pada Sabtu (20/8/2022).

"Kenapa perang Rusia dan Ukraina ini akan cukup lama? Because it's profitable. Rusia setiap harinya, dengan harga minyak yang naik dan dia menjual sekarang di bawah harga pasar, untungnya US$6 miliar dolar per hari," ujar Sandi, dikutip dari unggahan Instagram miliknya, pada Senin (22/8/2022).

Dia mengatakan Rusia memang mengeluarkan biaya untuk perang atau cost of war melawan Ukraina sebesar US$1 miliar setiap harinya. Namun, Sandi menilai Rusia tetap untung besar karena mendapat keuntungan dari hasil penjualan minyak.

"Jadi Rusia profit setiap hari berapa? US$5 miliar per hari," imbuh Sandi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper