Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setahun Taliban Berkuasa di Afghanistan, Begini Kondisinya...

Hari ini, tepat setahun Taliban menduduki wilayah Afghanistan. Taliban menandai ulang tahun pertama ini dengan hari libur nasional.
Szalma Fatimarahma
Szalma Fatimarahma - Bisnis.com 15 Agustus 2022  |  15:18 WIB
Setahun Taliban Berkuasa di Afghanistan, Begini Kondisinya...
Pejuang Taliban berdiri di luar Kementerian Dalam Negeri di Kabul, Afghanistan, (16/8/2021). - Antara/Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Hari ini, Senin (15/8/2022), tepat setahun Taliban menduduki wilayah Afghanistan. Taliban menandai ulang tahun pertama dengan hari libur nasional pada hari ini setelah tahun yang penuh gejolak, hak-hak perempuan dihancurkan dan krisis kemanusiaan memburuk.

Tepat setahun yang lalu, kelompok garis keras itu merebut Kabul setelah serangan kilat nasional terhadap pasukan pemerintah mengakhiri 20 tahun intervensi militer pimpinan Amerika Serikat (AS).

Seperti diketahui, Taliban merebut belasan Ibu Kota provinsi di Afghanistan dalam hitungan hari, hingga akhirnya menduduki Ibu Kota Kabul pada Minggu (15/8/2021).

"Kami memenuhi kewajiban jihad dan membebaskan negara kami," kata Niamatullah Hekmat, seorang pejuang yang memasuki Kabul pada 15 Agustus tahun lalu hanya beberapa jam setelah presiden Ashraf Ghani meninggalkan negara itu dikutip dari Channelnewsasia.

Awalnya, Taliban menjanjikan versi yang lebih lembut dari aturan keras yang menandai tugas pertama mereka berkuasa dari 1996 hingga 2001.

"Semuanya telah direbut dari kami, mereka bahkan telah memasuki ruang pribadi kami. Sejak mereka datang, hidup telah kehilangan maknanya," ucap salah satu warga Kota Kabul bernama Ogai Amail.

Warga Afghanistan juga menganggap kedatangan kelompok Taliban sebagai penyebab munculnya berbagai krisis kemanusiaan yang akhirnya membuat berbagai pihak tak berdaya.

Sebagai contoh, kelompok ini kerap kali melakukan kekerasan terhadap kaum perempuan dan menetapkan peraturan untuk mematuhi visi Islam yang keras.

Puluhan ribu anak perempuan telah dikeluarkan dari sekolah menengah dan juga tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan di sektor pemerintahan.

Dan pada bulan Mei, kaum wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya di depan umum, idealnya dengan burqa.

"Sejak hari mereka datang, hidup telah kehilangan maknanya," kata Ogai Amail.

"Semuanya telah direbut dari kami, mereka bahkan telah memasuki ruang pribadi kami," katanya.

Pada akhir pekan lalu, para pejuang Taliban memukuli pengunjuk rasa wanita dan menembakkan senjata ke udara untuk membubarkan demonstrasi di Kabul.

Warga Afghanistan menyebut, bahwa krisis kemanusiaan telah membuat banyak orang tidak berdaya.

"Orang-orang yang datang ke toko kami mengeluhkan harga yang begitu tinggi sehingga kami para pemilik toko mulai membenci diri kami sendiri," kata Noor Mohammad, seorang penjaga toko dari Kandahar, pusat kekuatan de facto Taliban.

Namun, bagi para pejuang Taliban, kegembiraan kemenangan membayangi krisis ekonomi saat ini.

"Kami mungkin miskin, kami mungkin menghadapi kesulitan, tetapi bendera putih Islam sekarang akan berkibar tinggi selamanya di Afghanistan", kata seorang pejuang yang menjaga taman umum di Kabul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

taliban afghanistan amerika serikat
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top