Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jejak Berdarah Jenderal Ferdy Sambo

Kesaksian Bharada E mengungkap peran Ferdy Sambo dalam pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.
Lukman Nur Hakim dan Szalma Fatimarahma
Lukman Nur Hakim dan Szalma Fatimarahma - Bisnis.com 10 Agustus 2022  |  09:47 WIB
Jejak Berdarah Jenderal Ferdy Sambo
Kadiv Propam nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo tiba untuk menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (4/8/2022). Irjen Pol Ferdy Sambo memenuhi panggilan Bareskrim Polri untuk diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan tindak pidana polisi tembak polisi di rumah dinasnya yang menewaskan Brigadir J. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar - pras.\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, Suara tembakan terdengar dari arah rumah mantan Kadiv Propram Irjen Pol Ferdy Sambo. Bukan rentetan tembakan melainkan suara letupan yang sesekali berhenti kemudian terdengar lagi. 

Sempat dikira suara petasan, kemudian aksi polisi tembak polisi, kini tabir itu terbuka sudah, tembakan itu ternyata berasal dari pistol Bripka RR yang mengakhiri hidup Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

"Tidak ada tembak menembak, FS [Ferdy Sambo] perintahkan Bharada E menembak Brigadir J," kata Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Selasa (9/8/2022).

Setelah Brigadir J tewas, Ferdy Sambo kemudian merekayasa peristiwa. Dia mengambil pistol milik Brigadir J dan menembakkan peluru ke dinding berkali-berkali. Tujuannya, kata Listyo, adalah untuk menghilangkan jejak supaya ada kesan Brigadir J tewas bukan dibunuh, melainkan terlibat aksi tembak menembak dengan Bharada E

Skenario inilah yang dipakai polisi pada awal peristiwa. Bahkan, jika mengikuti versi polisi pada saat itu, kronologi kasusnya bak drama khas sinetron Indonesia. Brigadir J disebutkan menempelkan pistol ke kepala istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi sembari melakukan pelecehan. Putri berteriak minta tolong. 

Bharada E yang mendengar teriakan istri bosnya langsung mengecek ke lokasi. Brigadir J terperanjat, masih versi awal polisi, tanpa basa basi menembakkan timah panas ke arah Bharada E. Bharada E yang disebut sebagai penembak mahir, merespons dengan tembakan yang seluruhnya mengenai Brigadir J. Brigadir J tewas seketika.

Hanya saja, satu persatu skenario itu mulai terbongkar. Penetapan Bharada E sebagai tersangka membuka tabir semuanya. Bharada E yang semula bungkam akhirnya berani bicara. Dia mengungkapkan kalau dirinya hanya diperintah untuk menembak oleh Ferdy Sambo. Laiknya bawahan mematuhi perintah atasan.

"Jadi saudara FS (Ferdy Sambo) inilah yang tembak dinding berkali-kali agar seolah-olah terjadi baku tembak," tutur Kapolri.

Kapolri juga menjelaskan bahwa fakta hukum baru terungkap setelah pihak tersangka Bharada E mengajukan diri sebagai justice collaborator dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di kediaman dinas tersangka Irjen Pol Ferdy Sambo.

"Terkait apakah saudara FS ini terlibat langsung atau tidak, kita masih menelusurinya," katanya.

Yang jelas, Ferdy Sambo dan tiga anak buahnya, yakni Bharada E, Bripka RR dan KM dikenakan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal mati.

Janggal Sejak Awal

Kejanggalan kematian Brigadir J memang sudah terendus sejak awal. Saksi-saksi di lokasi kejadian memberikan kesaksian yang berbeda dari versi polisi.

Para saksi di lokasi kejadian semula memang tidak curiga dengan apa yang terjadi di rumah Ferdy Sambo pada Jumat (8/7/2022) lalu.

Namun, selang sehari semuanya berubah. Ada gelagat yang tidak beres usai peristiwa suara letupan tersebut. Suasana rumah jenderal bintang dua itu mendadak ramai. Beberapa polisi kemudian terlihat datang ke lokasi.

Brimob berjaga di rumah Ferdy Sambo(Aparat Brimob bersenjata lengkap berada di rumah Ferdy Sambo./JIBI-Szalma Fatimarahma)

Seno Sukarto, warga yang juga Ketua RT di tempat tinggal Ferdy Sambo, tak habis pikir letupan tersebut ternyata suara tembakan senjata. Dia bahkan tidak tahu menahu jika suara letupan itu telah merenggut nyawa seorang polisi bernama Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Pensiunan jenderal bintang dua itu kemudian mengaku mendengar suara letupan, yang ternyata senjata itu, berkali-kali. Hanya saja, pernyataan Seno berbeda dengan polisi. Dia menyebut suara yang dia terdengar sesekali, bukan rentetan tembakan seperti yang diceritakan polisi.

"Ya ada tenggang waktu (suaranya), cuma berapa jumlahnya enggak kehitung. Lebih dari sekali, lebih dari dua kali lah,” tutur Seno saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/7/2022).

Polisi, seperti banyak diberitakan, menceritakan bahwa Brigadir J dan Bharada E terlibat aksi baku tembak. Aksi baku tembak itu berakhir dengan tumbangnya Brigadir J. Konon, Brigadir J terkena 7 tembakan Bharada E. Enam peluru tembus dan 1 bersarang di tubuh polisi nahas tersebut.

Versi polisi, aksi polisi tembak polisi itu dipicu oleh tindakan tidak pantas Brigadir J. Brigadir J disebut akan melakukan pelecehan terhadap istri Kadiv Propam Mabes Polri Irjen Pol Ferdy Sambo. Sementara Bharada E datang sebagai penyelamat.

Menariknya, sosok Bharada E sampai saat ini tidak pernah dijelaskan secara detail. Polisi hanya menggambarkan Bhadara E sebagai jagoan tembak di Resimen Pelopor.

Namun kejanggalan mulai muncul. Pernyataan polisi berbeda-beda. Peristiwa tersebut itu juga terungkap 3 hari setelah insiden antara sesama polisi tersebut. Sementara itu, ada luka trauma di sekujur wajah jenazah Brigadir J.

Selain itu, keberadaan CCTV di sekitar lokasi juga semakin meningkatkan syak wasangka. Seno Sukarto menuturkan bahwa sehari setelah Brigadir J tewas, polisi mengganti kamera pengawas di sekitar rumah Ferdy Sambo, termasuk di pos pengamanan.

"Digantinya hari Sabtu, yang ganti ya mereka [polisi]," ujar Seno.

Rumah Ferdy Sambo terletak tak jauh dari pos satuan pengamanan alias satpam. Petugas Satpam juga mengaku mendengar suara letupan saat kejadian berlangsung. Hanya saja, pernyataan satpam di lokasi tidak konsisten.

Mereka menyebut bahwa suara letupan dari arah rumah Ferdy Sambo sebagai suara petasan menjelang takbiran pada Jumat (8/7/2022). Padahal, mayoritas umat Muslim di Indonesia merayakan Iduladha pada Minggu (10/9/2022).

Ferdy Sambo Lindungi Keluarga

Sementara itu, penasihat hukum keluarga mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Arman Hanis mengatakan bahwa dugaan pembunuhan Brigadir J adalah bentuk perlindungan seorang kepala keluarga kepada anggota keluarganya.

Arman sepertinya masih mengacu kepada dugaan pelecehan seksual Brigadir J terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Dia juga berkukuh bahwa dugaan pembunuhan tersebut tentu didasari oleh sebuah alasan yang kuat. 

“Kami tim kuasa hukum percaya, bahwa klien kami Bapak FS adalah kepala keluarga yang bertanggungjawab dalam menjaga dan melindungi marwah serta kehormatan keluarganya,” jelas Arman kepada wartawan di kediaman pribadi Ferdy Sambo, Selasa (9/8/2022). 

Pengacara Ferdy Sambo(Pengacara Ferdy Sambo, Arman Hanis, saat memberikan pernyataan ke awak media./JIBI-Szalma Fatimarahma)

Selain itu, Arman menyebut bahwa pihaknya akan terus memastikan seluruh hak hukum yang dimiliki Ferdy Sambo serta kepatuhannya dalam mengikuti proses hukum yang berlangsung. 

“Terkait penetapan tersangka saudara FS, kami tim kuasa hukum menghormati penetapan tersebut dan akan segera fokus pada proses hukum selanjutnya,” tambah Arman. 

Kendati demikian, Arman tetap meminta polisi untuk mengusut dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J kepada istri Ferdy Sambo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Ferdy Sambo Pembunuhan Brigadir J Bharada E polisi tembak polisi
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top