Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Surya Paloh: Lebih Baik Tidak Ada Pemilu, Jika Ini yang Terjadi

Ketum Partai NasDem Surya Paloh menegaskan pemilu harus mempersatukan bangsa, bukan justru memecah belah karena politik identitas yang salah
Surya Dua Artha Simanjuntak
Surya Dua Artha Simanjuntak - Bisnis.com 25 Juli 2022  |  20:33 WIB
Surya Paloh: Lebih Baik Tidak Ada Pemilu, Jika Ini yang Terjadi
Ketum Partai NasDem Surya Paloh menegaskan pemilu harus mempersatukan bangsa, bukan justru memecah belah karena penggunaan politik identitas yang salah. ANTARA FOTO - Akbar Nugroho Gumay
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh menyatakan kekhawatiran akan praktik politik identitas yang berpotensi memecah belah bangsa di Pemilu 2024.

Surya bahkan menegaskan bahwa lebih baik tidak ada pemilu Pemilu jika hanya merusak persatuan dan kesatuan Indonesia. Menurutnya, Pemilu seharusnya menjadi sarana pendidikan politik untuk masyarakat.

"Lebih baik tidak perlu ada Pemilu kalau memang konsekuensi Pemilu itu berwujud pada perpecahan bangsa," ujarnya saat menyampaikan orasi ilmiah di penganugerahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Brawijaya, dikutip dari YouTube NasDem TV, Senin (25/7/2022).

Surya merasa praktik politik identitas di Indonesia sudah kelewatan batas, seperti yang terjadi pada Pemilu 2014 dan 2019. Menurutnya, kekuasaan selama 5-10 tahun tak sebanding dengan perpecahan suatu bangsa. Dia khawatir praktik buruk politik identitas tersebut akan berlanjut di Pemilu 2024. 

"Semua pihak seperti merasa sah-sah saja melakukan segala cara untuk memenangkan kontestasi ini [Pemilu]. Padahal kontestasi semestinya bersandar penuh pada kesadaran untuk meningkatkan kualitas kehidupan Republik [Indonesia]," ujar Paloh.

Meskipun demikian, Surya Paloh tidak menampik bahwa ada sisi baik dari politik identitas, salah satunya ketika memunculkan kekhasan sebuah partai politik (parpol), asalkan parpol tersebut tetap bersifat inklusif.

Sayangnya, dia melihat praktik politik identitas di Indonesia bersifat ekslusif sehingga tak mau menerima identitas lain yang berbeda sehingga berpotensi memecah belah bangsa.

"Model ini pada gilirannya akan membawa politik identitas menjadi politik kebencian," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nasdem parpol Pemilu 2024
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top