Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Moeldoko: Buya Syafii Maarif Sang Penjaga Nurani Bangsa

Kepala Staf Presiden RI Moeldoko turut menyampaikan ucapan selepas mendengar kabar duka wafatnya Buya Syafii Maarif.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  15:36 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. - Antara
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Staf Presiden RI Moeldoko turut menyampaikan ucapan selepas mendengar kabar duka wafatnya Buya Syafii Maarif, pada Jumat  927/5/2022).

Moeldoko mengatakan, dirinya mengenal Buya Syafii Maarif bukan hanya tokoh Muhammadiyah, melainkan tokoh seluruh umat Islam dan Bangsa Indonesia.

"Kami semua sangat kehilangan guru bangsa. Beliau adalah tokoh penjaga nurani bangsa," katanya lewat rilisnya, Jumat (27/5/2022).

Moeldoko menilai, Buya Syafii Maarif banyak memberikan contoh dan keteladanan menjadi muslim otentik dan sepenuhnya mencintai bangsanya.

Almarhum Buya Syafii, lanjutnya, juga telah mencontohkan hidup sederhana.

"Meskipun beliau bisa mendapatkan fasilitas mewah, tapi beliau tetap menjadi orang yang sangat bersahaja. Beliau tidak malu dan canggung utk naik KRL meski usianya sudah cukup lanjut," katanya.

Sekadar informasi, kabar duka datang dari keluarga besar PP Muhammadiyah. Mantan Ketua Umum yang pernah menjabat dari 1998—2005, Buya Syafii Maarif, berpulang pada Jumat, 27 Mei 2022 di usia 86 tahun.

Indonesia pun kembali kehilangan putra terbaiknya, Tokoh kemanusiaan dan guru bangsa ini menghembuskan napas terakhirnya di RS PKU Muhammadiyah Gamping pada pukul 10.15 WIB.

Meninggalnya tokoh yang akrab disapa Buya Syafii ini tentu menjadi duka mendalam bagi bangsa Indonesia, khususnya umat muslim, sebab dirinya dikenal sebagai tokoh lintas agama yang berjuang keras menggalakkan toleransi.

Selain itu, tokoh kelahiran Sumatera Barat, 31 Mei 1935 ini, juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Beberapa karya bukunya yang terkenal di antaranya ialah Dinamika Islam (1984), Islam, Mengapa Tidak? (1984), dan Islam dan Masalah Kenegaraan (1985). Atas karya-karyanya tersebut, beliau mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina pada 2008.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Buya Syafii Maarif juga sempat dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping Sleman, pada sabtu (14/5), karena mengalami sesak napas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

muhammadiyah moeldoko Syafii Maarif
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top