Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv
Fatchiah Kertamuda

Fatchiah Kertamuda

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Universitas Paramadina
email Lihat artikel saya lainnya

OPINI: Presidensi G20 dan Isu Pendidikan

Melalui Presidensi G20, Indonesia dapat mendorong upaya kolektif dunia mewujukan kebijakan yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi global secara inklusif. Salah satu isu yang jadi pembahasan di forum tersebut adalah isu di dunia pendidikan.
Bisnis.com - 23 Maret 2022  |  10:23 WIB
OPINI: Presidensi G20 dan Isu Pendidikan
Sejumlah murid mengikuti Pembelajaran Tatap Muka di SDN 01 Pondok Labu, Jakarta, Senin (3/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Indonesia secara resmi memegang Presidensi G20 mulai 1 Desember 2021 hingga KTT G20 di November 2022. Tema yang diangkat adalah “Recover Together, Recover Stronger” dengan tujuan mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Melalui forum ini, Indonesia dapat mendorong upaya kolektif dunia mewujukan kebijakan yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi global secara inklusif. Salah satu isu yang jadi pembahasan di forum tersebut adalah isu di dunia pendidikan.

Pendidikan merupakan faktor penting dalam mendukung tercapainya pemulihan kedepannya. Sesuai dengan Undang Undang Dasar 1945, pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Inilah menjadi tugas dan “pekerjaan rumah” bangsa ini, untuk dapat konsisten menuju cita-cita kedepannya ditengah kondisi pandemi yang masih terus berlangsung.

Empat isu pendidikan yang akan dibahas oleh anggota G20 di tahun 2022 ini diantaranya adalah: kualitas pendidikan untuk semua (universal quality education), teknologi digital dalam pendidikan (digital technologies in education), solidaritas dan kemitraan (solidarity and partnership), masa depan dunia kerja pascapandemi Covid-19 (the future of work post Covid-19).

Isu pertama terkait dengan kualitas pendidikan untuk semua adalah sangat penting. Selaras dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu "no one left behind". Ini menjadi tantangan dalam pembahasan di forum G20 nantinya. Dan ini benar-benar harus dapat ditemukan cara dan solusi yang dapat diimplementasikan.

Di Indonesia, isu ini menjadi poin penting mengingat pendidikan luas cakupannya, termasuk anak berkebutuhan khusus dan masyarakat atau kelompok marjinal yang rentan. Berdasarkan Peraturan kemendikbud Ristek No. 46/2017 tentang pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus di mana layanan pendidikan diberikan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus dan juga pendidikan layanan khusus bagi pembelajar yang berasal dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), termasuk pada pembelajar yang mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

Kendala yang terjadi pada isu ini adalah bagaimana akses, mutu dan keberagaman dan kesetaraan. Indonesia sebagai negara yang secara geografis mengalami kendala akses menjadi tantangan tersendiri yang perlu dihadapi untuk dapat menjaga kualitas pendidikan ini. Layanan pendidikan khusus ini perlu menjadi perhatian, agar tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat merata kepada semua pihak.

Isu kedua adalah teknologi digital dalam pendidikan. Terjadinya pandemi Covid-19 ini telah mengubah berbagai pola dan bentuk pembelajaran di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pola pembelajaran daring telah menjadi satu kebutuhan utama dalam pendidikan saat ini mulai dari anak usia dini hingga pendidikan tinggi.

Hal ini telah menimbulkan kesenjangan sosial dan kesenjangan digital dalam pendidikan. Penelitian yang dilakukan Basuki dkk (2021) BPSDM DKI menunjukkan ada beberapa kesenjangan yang terjadi dapat proses pembelajaran menggunakan teknologi. Tantangan yang masih terus dihadapi oleh guru dan siswa dalam penggunaaan teknologi digital adalah bagaimana menggunakan, memanfaatkan dan mengelolanya sebagai suatu proses dan sumber teknologi yang tepat dalam pendidikan.

Isu ketiga adalah solidaritas dan kemitraan. Salah satu tokoh sosial modern yaitu Emile Durkheim menyebutkan bahwa solidaritas ini terkait dengan rasa percaya, kesetiakawanan yang menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Melalui hal inilah, dalam menjalin kemitraan, pentingnya nilai-nilai seperti rasa saling percaya, kesamaan tujuan dan cita-cita, adanya kesetiakawanan dan rasa sepenanggungan dalam pemulihan dan memperkuat bersama-sama.

Isu keempat adalah masa depan dunia kerja pascapandemi covid-19 (the future of work post Covid-19). Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD, 2020) menyebutkan bahwa tantangan dunia kerja pasca pandemi Covid-19 adalah bagaimana membantu para pekerja dapat memanfaatkan ketrampilan sebaik mungkin di dunia kerja yang terus berubah.

Penggunaan teknologi telah banyak menggantikan manusia di dunia kerja. Saat ini, telah terjadi transformasi yang menggeser tenaga kerja dengan teknologi. Inilah yang menjadi tantangan bagaimana forum G20 dapat melihat situasi ini dan tidak hanya mempersiapkan tenaga kerja ke depan melalui training, workshop. Akan tetapi juga informasi cepat untuk mendukung para pekerja memperoleh informasi dunia kerja dengan skills yang mumpuni hingga dapat bersaing di tingkat global.

Di Perhelatan G20, Indonesia sebagai tuan rumah harus dapat benar-benar menjadikan momen ini mendapatkan solusi yang tepat agar tujuan "recover together, recover stronger" di bidang pendidikan dapat terwujud.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pendidikan g20 G20 Indonesia
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top