Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mantan Menteri Keuangan Afghanistan Jadi Pengemudi Uber di Washington

Khalid Payenda, yang pernah menjadi menteri keuangan Ghani, dilaporkan bekerja mengemudikan Uber di Washington DC.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 21 Maret 2022  |  11:31 WIB
Khalid Payenda, pernah menjadi menteri keuangan Afghanistan dan kini dilaporkan bekerja mengemudikan Uber di Washington DC. -  Twitter @KhalidPayenda
Khalid Payenda, pernah menjadi menteri keuangan Afghanistan dan kini dilaporkan bekerja mengemudikan Uber di Washington DC. - Twitter @KhalidPayenda

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa hari sebelum Afghanistan jatuh ke tangan kelompok bersenjata Taliban pada Agustus tahun 2021, Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan “diterima” di Uni Emirat Arab.

Dia diduga mengambil US$169 juta dari perbendaharaan negara sebelum berangkat ke  negara tersebut.

Sorotan media tentang Afghanistan pun memudar dengan cepat, tetapi penderitaan rakyatnya masih jauh dari selesai.

Enam bulan kemudian, Khalid Payenda, yang pernah menjadi menteri keuangan Ghani, dilaporkan kini bekerja mengemudikan Uber di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

“Jika saya menyelesaikan 50 perjalanan dalam dua hari ke depan, saya menerima bonus US$95,” kata Payenda kepada Washington Post, dari belakang kemudi mobil merek Honda Accord seperti dikutip TheGuradian.com, Senin (21/3/2022).

Pria berusia 40 tahun itu pernah mengawasi anggaran senilai US$6 miliar yang didukung AS.

The Post melaporkan bahwa dalam satu malam awal minggu ini, dia menghasilkan “sedikit lebih dari US$150 untuk enam jam kerja. Akan tetapi jumlah itu belum termasuk biaya operasional kendaraan.

The Post menulis, Payenda memberitahu seorang penumpang bahwa dirinya bisa  beradaptasi dengan kepindahannya dari Kabul ke Washington.

Dia juga bersyukur atas kesempatan untuk dapat menghidupi keluarganya. Akan tetapi, ada perasaan galau karena dia merasa tidak pantas lagi tinggal di Kabul,  dan juga merasa bukan warga yang seharusnya tinggal di Washington.

Afghanistan menghadapi krisis kemanusiaan dan ekonomi selain asetnya dibekukan dan terputus dari bantuan internasional.

Taliban membutuhkan pengakuan dari pemerintah AS setelah menggantikan rezim yang didukung negara itu.

The Post juga menggambarkan pengalaman Payenda pada akhir 2020, ketika ibunya meninggal akibat Covid-19 di rumah sakit Kabul yang miskin. Dia kemudian menjadi menteri keuangan setelah itu. The Post menulis Payendra berharap dia tidak akan mengalami nasib yang sama.

“Saya melihat banyak keburukan dan negara kami gagal,” katanya. Saya adalah bagian dari kegagalan. Sulit ketika Anda melihat kesengsaraan orang-orang dan Anda merasa bertanggung jawab,” ucapnya.

Payenda mengatakan kepada Post bahwa dia percaya orang Afghanistan “tidak memiliki keinginan kolektif untuk melakukan reformasi dengan serius. Akan tetapi, AS mengkhianati komitmennya terhadap demokrasi dan hak asasi manusia setelah menjadikan Afghanistan sebagai pusat kebijakan pasca-9/11.

Tanggapan AS patut dipuji. Tetapi sebagai orang Afghanistan saya sedikit kecewa dengan Tanggapan Inggris, katanya.

“Mungkin ada niat baik pada awalnya, tetapi Amerika Serikat mungkin tidak bermaksud demikian,” kata Payenda.

Dia mengundurkan diri sebagai menteri keuangan seminggu sebelum Taliban merebut Kabul. Hal itu di pilih karena hubungannya dengan Ghani memburuk. Dia takut presiden akan menangkapnya dan pergi ke AS untuk bergabung dengan keluarganya.

“Kami menikmati 20 tahun dukungan seluruh dunia untuk membangun sistem yang akan bekerja untuk rakyat,” katanya dalam pesan teks kepada seorang pejabat Bank Dunia di Kabul pada hari ibu kota jatuh seperti dikutip oleh Post.

“Yang kami bangun hanyalah bangunan keropos yang runtuh secepat ini. Rumah yang dibangun di atas dasar korupsi,” ucap Payenda dengan nada galau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

afghanistan taliban
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top