Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dua Pasien Omicron di Indonesia Meninggal, Begini Analisis Ahli

Satu dari dua yang meninggal kemarin adalah kasus transmisi lokal.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 23 Januari 2022  |  13:16 WIB
Ilustrasi Omicron. - Antara
Ilustrasi Omicron. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Dua orang pasien Covid-19 varian Omicron di Indonesia dilaporkan meninggal pada Sabtu, (22/1/2022). Satu kasus yang merupakan transmisi lokal meninggal di Rumah Sakit Sari Asih Ciputat.

Sedangkan satu lagi merupakan pelaku perjalanan luar negeri, meninggal di RSPI Sulianti Saroso. Keduanya merupakan pelaporan fatalitas pertama di Indonesia akibat varian Omicron yang memiliki daya tular tinggi.

"Kita amat berduka dengan wafatnya dua warga karena Omicron kemarin. Wafatnya dua warga menunjukkan bahwa tidak semua infeksi Omicron adalah ringan. Jadi kita harus ekstra waspada, tentu tanpa perlu panik," ujar Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020, Tjandra Yoga Aditama, melalui pesan WhatsApp, Minggu (23/1/2022).

Berdasarkan data kematian akibat Covid-19 untuk varian Omicron dari beberapa negara, Tjandra melanjutkan, Inggris hingga 31 Desember 2021 mencatatkan sudah ada 75 orang yang meninggal. Kemudian, pasien pertama yang meninggal di Amerika Serikat umurnya 50 tahunan, sudah pernah terkena Covid-19 sebelumnya dan orang tersebut belum divaksinasi.

Di negara lain, kasus kematian di Jepang adalah lansia dengan komorbid berat, Australia yang meninggal adalah usia 80-an dengan komorbid. Sedangkan di Singapura yang meninggal usianya 92 tahun, tidak ada komorbid yang jelas dan belum vaksinasi. Lalu India yang meninggal usia 74 tahun dengan diabetes melitus dan komorbid lain.

Menurut Guru Besar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, di Amerika dan Australia beberapa hari yang lalu diperkirakan akan mengalami peningkatan kematian akibat Covid-19 pada minggu-minggu mendatang. "Tentunya juga ini berhubungan dengan Omicron," kata Tjandra.

Selain itu, Tjandra berujar, dari data Sabtu kemarin di Indonesia ada sekitar 1.000-an kasus Omicron dengan sekitar 250-an adalah transmisi lokal. Sementara beberapa minggu lalu, sebagian besar kasus adalah pendatang dari luar negeri dan kini sudah makin bergeser ke transmisi lokal.

Dengan kata lain, makin banyak kasus-kasus Omicron di masyarakat. "Juga, satu dari dua yang meninggal kemarin adalah kasus transmisi lokal," ujar Tjandra.

Jumlah kasus Covid-19 secara keseluruhan juga terus meningkat, mulai dari 20-21 Januari di atas 2.000 kasus dan 22 Januari sudah di atas 3.000 kasus. "Entah bagaimana hari ini dan besok-besok hari," tutur Tjandra menambahkan.

Dengan melihat data di atas, Tjandra melanjutkan, maka setidaknya ada beberapa hal yang harus ditingkatkan. Protokol kesehatan (3M atau 5M) harus jauh lebih ketat pelaksanaannya, berubah dari 'new normal' menjadi 'now normal' serta kemungkinan work from home atau WFH lebih luas, termasuk evaluasi kebijakan pembelajaran tatap muka atau PTM 100 persen.

Penerapan aplikasi PeduliLindungi juga disebutnya harus diperketat lagi dan termasuk mendeteksi jika ada yang positif Covid-19 sesudah beberapa hari. Peningkatan tes untuk mendeteksi yang orang tanpa gejala atau OTG yang Omicron, dan telusur (ke depan kepada siapa menulari dan ke belakang dari siapa tertular) secara masif.

"Jelas harus dengan usaha lebih daripada yang dilakukan minggu-minggu yang lalu," kata Tjandra yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Jakarta.

Selain itu upaya maksimal juga perlu dilakukan yaitu meningkatkan vaksinasi dan booster, apalagi di daerah yang tinggi penularan Omicronnya dan juga pada lansia dan komorbid. Karena sekarang rumah sakit masih relatif kosong, ia menyarankan agar kasus Omicron ringan dan yang mempunyai komorbid serta pasien lansia sebaiknya dirawat dulu. Termasuk juga penanganan mereka yang datang dari luar negeri harus lebih ketat lagi.

Sejalan dengan itu, Tjandra mengingatkan bahwa kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan jelas harus ditingkatkan. Harus ada upaya maksimal untuk mengobati pasien Omicron, menangani pasien gawat dan memperkecil kemungkinan kematian.

"Akan lebih baik juga jika evaluasi kebijakan dilakukan berdasar perubahan data yang ada," katanya soal penanganan pandemi untuk varian Omicron. Ia menilai evaluasi dilakukan tidak hanya harus seminggu sekali atau sesuai jangka waktu tertentu, tapi dapat juga sesuai dinamika perubahan data yang terjadi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 PPKM Darurat Protokol kesehatan omicron

Sumber : Tempo.co

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top