Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

5 Tersangka Korupsi LPEI Rugikan Negara Triliunan Rupiah?

Salah satu dari tiga debitur LPEI yang bermasalah itu, sudah menyebabkan kerugian negara hingga triliunan rupiah.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Supardi./Antara
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Supardi./Antara

Kerugian Triliunan Rupiah

Bisnis.com, JAKARTA -- Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung, Supardi mengatakan bahwa dari enam debitur yang sudah didalami oleh tim penyidik Kejagung, ada tiga debitur yang terbukti bermasalah dan terlibat dalam perkara korupsi LPEI.

"Dari enam debitur, ada tiga debitur yang diduga bermasalah dalam kasus ini," tuturnya dikutip Rabu (6/10/2021).

Bahkan, kata Supardi, salah satu dari tiga debitur yang bermasalah itu, sudah menyebabkan kerugian negara hingga triliunan rupiah. Sayangnya, Supardi masih belum mengungkapkan total nilai kerugian negara yang muncul akibat kasus korupsi LPEI tersebut.

Adapun Kejagung telah menggandeng Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menghitung nilai kerugian negara terkait kasus korupsi di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Supardi menambahkan bahwa pihaknya sudah mengirimkan sejumlah dokumen yang diperlukan BPK untuk menghitung kerugian negara akibat kasus korupsi LPEI.

"Sudah kami berikan data yang dibutuhkan BPK untuk menghitung nilai kerugian negara terkait kasus korupsi LPEI, kami terus berkoordinasi ya," tuturnya kepada Bisnis, Rabu (15/9/2021).

Selain itu, Supardi juga menjelaskan alasan tim penyidik Kejagung tidak kunjung menetapkan tersangka dalam kasus korupsi LPEI tersebut, kendati proses penyidikan sudah berjalan selama tiga bulan.

Alasannya, menurut Supardi karena ada sebanyak 10 klaster tindak pidana korupsi yang terjadi di LPEI, sehingga tim penyidik Kejagung butuh waktu lebih banyak untuk mengungkap tersangka kasus korupsi tersebut.

"Ini korupsinya besar sekali, ada 10 klaster dan setiap klaster itu ada 12 perusahaan. Jadi kami harus cek ini satu per satu," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Edi Suwiknyo

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper