Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Azis Syamsuddin Bantah Terima Suap: Demi Allah Saya Gak Punya Adik!

Mantan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin bantah terima suap untuk memuluskan kenaikan dana alokasi khusus (DAK) Lampung Tengah. Dia bersumpah tidak punya adik.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 03 Januari 2022  |  18:06 WIB
Aziz Syamsudin - Istimewa
Aziz Syamsudin - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Mantan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin membantah keterangan saksi yang dihadirkan KPK atas dugaan korupsi yang melibatkannya. Dia bahkan bersumpah dengan menyebut Tuhan tidak punya adik. Namun, saksi tetap pada keterangannya.

Pada keberatannya, Azis mengatakan bahwa tidak pernah menerima uang suap untuk memuluskan kenaikan dana alokasi khusus (DAK) Lampung Tengah.

Azis juga membantah menerima dan berdiskusi terkait apapun soal DAK dengan Aliza Gunado dan Edy Sujarwo yang disebut sebagai orang dekatnya.

Aliza dan Jarwo, tambah Azis, tidak pernah dia perintahkan terkait kasus ini. Dia juga mengklaim bahwa tidak pernah memerintahkan Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Lampung Tengah Taufik Rahman untuk membuat proposal kenaikan DAK Lampung Tengah atau mengubahnya.

“Saya menyatakan demi Allah, demi Rasulullah dan saya bersumpah untuk nama keluarga besar saya bahwa saya tidak pernah mempunyai adik, baik kandung maupun adik angkat karena saya adalah anak paling kecil dari lima bersaudara. Saya tidak pernah menyatakan bahwa saudara Edy Sujarwo maupun Aliza Gunado sebagai staf ataupun orang kepercayaan saya,” jelasnya.

Sementara itu, Azis menuturkan bahwa tidak pernah tahu terkait surat yang ditandatangani oleh Jarwo dan menjadi bukti yang dipaparkan Jaksa KPK untuk kasusnya. Oleh karena itu, dia menganggapnya ilegal.

“Saya menyatakan bahwa hal-hal yang saya sampaikan ini dapat saya pertanggungjawabkan,” tutupnya.

Ketua Majelis Hakim Muhammad Damis lalu menanyakan kepada para saksi yang dihadirkan terkait keterangannya yang dibantah Azis mulai dari duit suap hingga adik Azis. Mereka adalah Aan Riyanto, Taufik Rahman, dan Darius Hartawan.

“Tetap pada keterangan,” jawab mereka saat ditanya satu per satu.

Agenda persidangan hari ini adalah konfrontasi antara Aliza dengan saksi lainnya. Ini karena pada persidangan pekan lalu Aliza selalu menjawab tidak tahu, termasuk kedekatannya dengan Azis.

Salah satu hakim pun sampai meninggikan suaranya untuk menegaskan pertanyaan seakan tidak percaya dengan ucapan Aliza.

“Saya hanya tahu sebatas sesama Golkar. Saya di angkatan muda sedangkan saudara terdakwa di pengurus,” katanya pada persidangan, Kamis (30/12/2021).

Lalu hakim kembali menegaskan apakah kenal dengan Azis. Dijawabnya kenal. Aliza juga bukan saudara, memiliki hubungan perkawinan, maupun bekerja dengan Azis.

Aliza lalu disumpah. Setelah itu, hakim mengingatkan agar dia memberikan keterangan yang benar sesuai dengan penglihatan, pendengaran, dan pengetahuannya.

“Kalau menurut penilaian keterangan saudara tidak benar, maka saudara akan diancam hukum negara. Minimal 3 tahun maksimal 12 tahun penjara,” jelas hakim.

Lalu hakim ketua menyerahkan kepada jaksa penuntut umum (JPU) untuk menggali keterangan Aliza. Dalam proses itu, Aliza malahan mengaku tidak kenal dengan para saksi yang pernah bertemu dengannya.

Setelah itu hakim kedua memperdalam apa yang sudah Aliza katakan. Bahkan suaranya sampai meninggi karena keterangannya dianggap berbeda dengan para saksi lain.

Aliza ditanya beberapa nama seperti Taufik Rahman, Aan Riyanto, dan Darius Hartawan. Dijawabnya tidak kenal. Merasa janggal, hakim bertanya kepada JPU apakah Aliza tersangka atau bukan. Saat ini, dia masih belum ditetapkan sebagai tersangka.

“Banyak sekali cerita tentang saudara di sini. Ini masuk dalam berita acara. Coba pikir dulu. Jagan bilang tidak tahu, tidak tahu,” hakim yakinkan Aliza.

Setelah itu nada hakim meninggi dengan menyebut para saksi yang menyebut nama Aliza. Dia kukuh mengaku tidak tahu.

Bahkan saat disebut nama Azis, Aliza tetap mengaku tidak kenal. Dia tetap pada keterangan sebelumnya yang hanya tahu karena sesama di organisasi.

“Kenal tidak? Saudara kenal baik dengan dia [Azis],” tanya hakim dengan suara meninggi.

“Tidak kenal baik. Tapi kalau kenal iya. Saya sama terdakwa, saya kenal. Tapi kalau kenal baik, saya tidak kenal baik,” jawab Aliza.

“Itu pengeritaannya. Yang saya tanya, karena saudara di MPR dan terdakwa di DPR, gedungnya kan segitu juga. Kenal tidak?” hakim menanyakan ulang.

“Kenal baik, tidak. Karena terdakwa di DPP Golkar. saya di angkatan muda. Kami tidak pernah di satu struktur,” jawab Aliza.

“Jadi saudara tidak kenal dekat dengan terdakwa?” hakim mencoba mengerucutkan pertanyaan dan dijawab, “Iya betul tidak kenal dekat.”

“Jadi keterangan saksi itu perlu dikonfrontir,” terang hakim yang meragukan pernyataan Aliza.

Nama Aliza memang beberapa kali disebut dalam persidangan dengan terdakwa Azis. Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Lampung Tengah Taufik Rahman salah satunya yang membeberkan proses pengajuan tambahan DAK tahun anggaran 2017 di daerahnya. Dia juga menyiapkan mahar Rp200 juta untuk menyerahkan proposal DAK kepada Azis.

Pada April 2017, Taufik mengaku mengajukan DAK ke pemerintah pusat. Dia sendiri yang menyiapkan proposalnya atas perintah Bupati Lampung Tengah Mustafa.

Saat itu, Taufik belum kenal dengan Azis. Pertemuan perdananya dengan Azis saat diajak orang kepercayaanya, pada 21 Juli 2017.

Awal setelah pengajuan proposal, dia ditemui kawan yang merupakan seorang konsultan bernama Darius.

Darius memberitahu ada orang dari Jakarta yang bisa membantu mengurus tambahan DAK Lampung Tengah. Dia adalah Aliza Gunado yang mengaku orang dekat tangan Azis.

Bertemu di sebuah cafe di Bandar Lampung, Aliza menyampaikan apabila proposal ingin tembus harus mengajukan ke Kementerian Keuangan, Kementerian PUPR, Bappenas, dan DPRD termasuk Banggar.

Aliza lalu mengatakan proposal tersebut bisa diajukan lewat dia. Setelah berkas selesai, Taufik membawa ke Jakarta untuk bertemu Aliza di Gedung DPR.

Saat itu nilai tambahan yang diajukan Rp300 miliar. Tapi Aliza bilang terlalu besar sehingga perlu direvisi menjadi sekitar Rp130 miliar.

Taufik pun pulang dan melapor ke mantan Bupati Mustafa. Akan tetapi yang disampaikan Mustafa adalah tidak kenal dengan Aliza. Yang dia tahu, orang kepercayaan Aziz adalah Edy Sujarwo.

Lalu, Taufik dan Darius mencari cara untuk menghubungi Jarwo. Setelah bertemu, Jarwo mengaku kaki tangan Azis. Akhirnya pertemuan dengan Azis berlangsung.

Mereka akhirnya bertemu di bandara. Sebelum itu, Jarwo sudah berpesan agar menyiapkan uang proposal besarannya Rp200 juta.

Uang tersebut dibungkus dengan kresek plastik. Rencananya, duit akan diserahkan Taufik saat pertemuan dengan Azis di sebuah kafe yang dikelola oleh adik Azis bernama Vio. Akan tetapi pertemuan batal karena Azis masih ada rapat banggar di DPR.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KPK korupsi suap
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top