Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Militer AS Akui Strateginya Gagal Tarik Pasukan dari Afghanistan

Jenderal Mark Milley mengatakan bahwa militer AS gagal menarik pasukan dari Afghanistan yang dalam situasi kacau balau.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 29 September 2021  |  07:35 WIB
Militer AS Akui Strateginya Gagal Tarik Pasukan dari Afghanistan
Pejuang Taliban berdiri di luar Kementerian Dalam Negeri di Kabul, Afghanistan, (16/8/2021). - Antara/Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Petinggi militer Amerika Serikat (AS) AS mengakui kegagalan strategi dalam penarikan pasukannya di Afghanistan, meski berhasil dalam hal penyediaan logistik.

Hal itu diakui Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark Milley saat memberi keterangan di depan sidang luar biasa komite angkatan bersenjata Senat yang mengawasi keberangkatan pasukan AS dan mencatat banyak korban tewas selama 20 tahun berada di negara itu.

Milley muncul bersama Menteri Pertahanan, Lloyd Austin, dan kepala Komando Pusat AS Jenderal Kenneth 'Frank' McKenzie, dalam sidang tersebut. Semua petinggi  militer itu mendapatkan kritikan tajam terkait kepemimpinan militer negara itu dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Pada satu sisi, Milley berkewajiban untuk mempertahankan kesetiaannya kepada negaranya dalam menghadapi tuduhan pembangkangan dalam minggu-minggu terakhir pemerintahan Donald Trump.

Dia menjelaskan, hal itulah yang menyebabkan  mengapa dia tidak mengundurkan diri selama penarikan pasukan Afghanistan yang kacau balau.

Jenderal tersebut juga membela diri atas sikap Trump dan mengatakan kesetiaannya kepada bangsa adalah mutlak.

“Jelas perang di Afghanistan tidak berakhir seperti yang kami inginkan,” kata Milley seraya menambahkan Taliban sekarang telah berkuasa di Kabul sebagaimana dikutip TheGuardian.com, Rabu (29/9/2021).

“Kita harus ingat bahwa Taliban tetap menjadi organisasi teroris dan mereka masih belum memutuskan hubungan dengan al-Qaida,” tambahnya.

Dirinya tidak memiliki ilusi dengan siapa berhadapan dan masih harus dilihat apakah Taliban dapat mengonsolidasikan kekuasaan atau tidak.

Milley mengakui, menghadapi hari yang sangat sulit untuk melewati kerusakan reputasi yang disebabkan oleh jatuhnya Kabul secara tiba-tiba bulan lalu. Begitu juga ketika mengevakuasi orang Amerika Serikat dan sekutunya yang menyebabkan puluhan ribu orang rentan keamanan.

Milley, Austin dan McKenzie semuanya mengonfirmasi bahwa ketika pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan kebijakannya tentang Afghanistan dalam beberapa bulan pertama menjabat, mereka percaya bahwa pasukan kecil AS sekitar 2.500 harus tetap ada.

Akan tetapi, Biden menjelaskan dalam sebuah wawancara bulan lalu bahwa dia belum menerima saran seperti itu.

“Tidak ada yang mengatakan itu kepada saya yang dapat saya ingat,” kata Biden kepada ABC News pada 19 Agustus lalu.

Milley dengan tegas menolak saran senator Partai Republik Tom Cotton, bahwa dia harus mengundurkan diri karena saran itu ditolak.

“Akan menjadi tindakan pembangkangan politik yang luar biasa bagi seorang perwira yang ditugaskan untuk mengundurkan diri begitu saja karena saran saya tidak diterima,” katanya.

Dia mengatakan, negara tidak ingin para jenderal mencari tahu perintah apa yang akan diterima dan dilakukan atau tidak karena itu bukan tugasnya.

Dalam wawancara 19 Agustus, Biden mengatakan bahwa pasukan AS akan tetap tinggal sampai semua warga Amerika Serikat dievakuasi. Tapi, ketika tentara terakhir pergi dengan penerbangan pada tanggal 30 Agustus, diyakini masih ada lebih dari seratus orang Amerika Serikat yang kebanyakan berkewarganegaraan ganda atau yang telah menunda keputusan mereka untuk pergi sehingga terlambat.

Milley mengatakan, pimpinan militer meminta untuk tetap berpegang pada batas waktu akhir Agustus untuk menyelesaikan keberangkatan yang telah disepakati Taliban.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat afghanistan taliban
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top