Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LaporCovid-19: Pemerintah Harus Akui Kondisi Gawat Darurat!

LaporCovid-19 mendesak pemerintah mengakui kondisi saat ini sudah gawat darurat. Hal itu terjadi lantaran melonjaknya angka kematian dan kolapsnya fasilitas kesehatan (faskes) di berbagai daerah.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 05 Juli 2021  |  17:54 WIB
Petugas pemakaman menguburkan jenazah korban Covid-19 di TPU Srengseng Sawah Dua, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa, (2/2/2021). - Antara
Petugas pemakaman menguburkan jenazah korban Covid-19 di TPU Srengseng Sawah Dua, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa, (2/2/2021). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - LaporCovid-19 meminta pemerintah untuk mengakui bahwa saat ini Indonesia sudah mengalami kondisi gawat darurat seiring melonjaknya angka kematian dan kolapsnya fasilitas kesehatan (faskes) akibat Covid-19.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat angka kematian atau kasus meninggal naik 555 per hari pada Minggu (4/7/2021). Dengan demikian, angka kumulatif atau total kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 60.592 orang.

Inisiator LaporCovid-19 Irma Hidayana mengatakan kematian-kematian tersebut semestinya bisa dihindari jika dari awal pemerintah melakukan pencegahan dan pengendalian penularan Covid-19 yang lebih kuat.

“Pemerintah perlu mengakui bahwa kondisi [pandemi Covid-19 di Indonesia] sudah gawat darurat. Pemerintah sebaiknya meminta maaf serta menunjukkan empati," katanya dalam diskusi virtual yang digelar LP3ES dengan tema "Gagaglnya Indonesia Menyelamatkan Rakyat", Senin (4/7/2021).

Dia mengungkapkan situasi saat ini merupakan hasil dari ketidakefektifan pencegahan dan pengendalian yang dilakukan pemerintah selama ini. Selama setengah tahun masa pandemi Covid-19, lanjutnya, pemerintah justru melakukan pelonggaran sosial sehingga berimbas pada minimnya tidak kedisiplinan masyarakat.

Faktor lainnya, kata dia, kolapsnya fasilitas kesehatan lantaran pemerintah mendahulukan kepentingan ekonomi di atas kesehatan masyarakat.

"Pemerintah perlu berhenti melakukan komunikasi yang mencitrakan bahwa kita sedang baik-baik saja, yang justru mengakibatkan rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap masifnya penularan Covid-19," ujarnya.

Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia dalam beberapa minggu terakhir telah meningkatkan angka kematian warga. Hingga 4 Juli 2021, data nasional setidaknya mencatat 60.582 orang meninggal terkonfirmasi positif melalui hasil usap PCR. Angka kematian terkait Covid-19 yang sebenarnya diperkirakan jauh lebih banyak. Pasalnya, data tersebut tidak memasukkan jumlah mereka yang meninggal dengan status probable, atau yang mengalami gejala klinis penyakit infeksius Covid-19.

Data yang dikumpulkan oleh LaporCovid-19 dari pemberitaan media massa dan media sosial menyebut hingga 4 Juli 2021, 291 orang meninggal saat melakukan isolasi mandiri di rumah. Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah meninggalnya puluhan pasien di RS Dr. Sardjito Yogyakarta pada Minggu, (4/7/2021).

Ini menjadi potret nyata kolapsnya fasilitas kesehatan yang menyebabkan pasien Covid-19 kesulitan mendapatkan layanan medis yang semestinya. Selain itu, jumlah tenaga kesehatan yang terinfeksi dan yang meninggal pun semakin banyak. Di sisi lain, pemerintah tidak kunjung terlihat melakukan peningkatan 3T [testing, tracing, dan treatment] secara signifikan," ucapnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kematian Covid-19 pandemi corona
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top