Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PPKM Darurat: Menanti Tuah Lord Luhut Kendalikan Wabah

Luhut Binsar Pandjaitan 'mengambil alih' penanganan Covid-19 di Jawa dan Bali. Meski bukan hal yang baru, penunjukan Luhut itu seolah menelanjangi kinerja Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) proses pengendalian wabah Corona.
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan./ANTARA
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan./ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, kembali turun tangan untuk mengatasi ledakan kasus positif Covid-19.

Maklum, selama beberapa pekan belakangan, pemerintah memang cenderung kurang tegas bahkan terkesan mengulur-ulur waktu, meski jumlah warga yang terpapar Covid-19 terus bertambah. 

Data sepekan terakhir menunjukkan angka infeksi bahkan di atas 20.000 kasus per hari. Kasus kumulatif juga telah menembus angka 2 juta.

Wajar, jika kondisi yang 'nyaris' tak terkendali itu membuat rakyat dan tokoh masyarakat gerah. Apalagi sikap pemerintah cenderung kurang taktis padahal situasi semakin kritis. Para pejabat umumnya hanya menyinggung vaksinasi dan anjuran pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) untuk mengantisipasi kasus infeksi virus Corona. Tanpa ada solusi riil.

Padahal rakyat pengin langkah tegas. Selain itu, kalangan wakil rakyat hingga para praktisi kesehatan juga kompak mendesak pemerintah untuk menarik rem darurat. Lockdown hingga pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB jadi opsi.

Mereka khawatir, jika hanya anjuran, tanpa solusi kebijakan pembatasan sosial yang tegas, kasus infeksi virus Corona makin tak terkendali. Bayangan suram kasus di India pun bisa saja terjadi.

Pemerintah akhirnya mulai bergerak setelah mendapat tekanan dari kanan-kiri. Meskipun tak cukup progresif karena negara tak punya kas yang cukup untuk bertindak radikal.

Pada Selasa kemarin, Presiden Joko Widodo alias Jokowi menggelar rapat terbatas di Istana Negara. Salah satu bahasannya tentu terkait kasus lonjakan Covid-19 dan penyebaran varian Delta yang kian massif.

Salah satu hasil rapat yang kemudian banyak beredar di kalangan pewarta antara lain soal pemberlakuan PPKM darurat dan penunjukan Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan. Lord Luhut, begitu sapaan di banyak kesempatan, ditunjuk menjadi koordinator PPKM darurat di Jawa dan Bali.

Sementara Menteri Koordiantor Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang seharusnya menjabat sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menangani PPKM Darurat di luar Jawa dan Bali. Ini artinya, Luhut menggeser peran Airlangga dalam penanganan Covid-19. Padahal, Jawa dan Bali adalah kunci.

Jawa dan Bali adalah titik episentrum. Banyak kasus Covid-19 di sini. Dari sisi ekonomi, Jawa dan Bali adalah dua daerah yang memiliki signifikansi yang cukup penting. Memulihkan Jawa dan Bali dari pandemi berarti akan mendorong kembali aktivitas ekonomi yang size-nya lebih dari 50 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Pertanyaannya kenapa Luhut? Bukan Airlangga yang dari sisi background jabatan di eksekutif maupun dalam penanganan Covid-19 punya korelasi dengan proses pemulihan Jawa-Bali?

Tentu jawabannya agak susah. Tetapi publik harus yakin bahwa mungkin keputusan ini hanya masalah praktis. Tujaannya sama yakni membebaskan negara dari pandemi serta memulihkan kembali ekonomi.

Selain itu, mantan Jenderal Komando Pasukan Khusus atau Kopassus itu juga memiliki pengalaman dalam menghadapi krisis serupa yang terjadi pada Oktober 2020.

Sedikit kembali ke belakang, kala itu pemerintah sedang menghadapi lonjakan kasus penularan Covid-19. Kasus aktif melonjak. 10 provinsi kemudian menjadi prioritas pada waktu itu.

Luhut turun tangan. Bersama juniornya di Kopassus, Letjen TNI Doni Monardo, dia saling bahu membahu untuk menurunkan kasus infeksi virus Corona di 10 provinsi tersebut. Ujian itu dapat dilewati oleh Luhut dan Doni meski masih memiliki banyak catatan. Kasus Corona khususnya di DKI Jakarta dan Jawa Tengah agak bisa dikendalikan.

Namun tantangan saat ini berbeda dengan kasus Oktober 2020. Luhut harus berkejaran waktu dengan semain meluasnya kasus infeksi. Varian Delta menyebar. Fasilitas kesehatan hampir kolaps. Tenaga kesehatan dan tenaga medis juga banyak yang tumbang akibat terpapar virus yang bermula dari Wuhan, China itu.

Lonjakan kasus itu tentu merupakan sebuah tantangan bagi Luhut. Sekaligus momen pembuktian jika dia tak pernah gagal dalam menjalankan tugas. Publik sangat menunggu langkah taktis Lord Luhut dalam menyelesaikan atau mengurangi dampak pandemi. Semoga berhasil Pak Luhut. Tan Hana Wighna Tan Sirna (tak ada rintangan yang tidak bisa diatasi).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Edi Suwiknyo
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper