Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terbongkar! Begini Cara Penyelundupan Drakor dan K-Pop dari China ke Korut

Menurut laporan New York Times, China adalah pemasok utama Drama Korea dan K-Pop selundupan ke Korea Utara.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Juni 2021  |  11:03 WIB
Pyongyang Korea Utara
Pyongyang Korea Utara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Korea Utara sudah lama membangun pesan-pesan propaganda anti Korea Selatan.

Lewat berbagai media yang mereka kendalikan, Korea Utara rajin memberikan gambaran palsu soal situasi di negeri gingseng itu. Salah satunya adalah Korea Selatan perwujudan neraka dunia yang penuh akan pengemis.

Namun, hal itu tidak menghentikan keinginan remaja Korut untuk menikmati drama Korea dan K-Pop. Dilansir Tempo.co pada Sabtu (12/6/2021) menurut laporan New York Times, China adalah pemasok utama Drama Korea dan K-Pop selundupan ke Korea Utara.

Materi diselundupkan via flash disk yang kemudian dinikmati remaja Korea Utara sembunyi-sembunyi. Pemerintahan Kim Jong Un tahu betul penyelundupan itu terjadi.

Hukuman pun dibuat untuk memberikan efek jera. Desember lalu, hukuman itu terbit. Salah satu isinya adalah hukuman 5-15 tahun di kamp kerja paksa untuk mereka yang ketahuan menonton Drama Korea atau menikmati K-Pop.

Mereka yang menyelundupkan materi bisa dihukum lebih berat lagi, salah satunya hukuman mati. Adapun hukuman paling ringan diberikan untuk mereka yang ketahuan berbicara, menulis, ataupun beryanyi dengan gaya Korea Selatan. Ancaman hukumannya dua tahun kerja di kamp kerja paksa.

"Bagi Kim Jong Un, invasi budaya Korea Selatan sudah melewati batas. Jika dibiarkan, dia takut warga Korea Utara akan memandang Korea Selatan sebagai alternatif," ujar Jiro Ishimaru, Pemimpin Redaksi Asia Press International, yang memantau Korea Utara.

Pemimpin Agung Korea Utara Kim Jong Un terus melanjutkan perang budayanya terhadap pengaruh-pengaruh Korea Selatan, tak terkecuali K-Pop. Dikutip dari New York Times, Kim Jong Un menyebut K-Pop dan Drama Korea sebagai kanker, pengaruh buruk terhadap remaja-remaja Korea Utara. Jika K-Pop dan Drama Korea dibiarkan, Kim Jong Un khawatir nilai-nilai Korea Utara akan runtuh.

Berbagai upaya dia lakukan untuk melawannya. Salah satu hal paling rutin yang dilakukan adalah kampanye melawan semangat anti-sosialis dan invasi budaya yang ia sebarkan via media milik pemerintah. Kim menyakini Drama Korea dan K-Pop membawa pesan-pesan itu.

"Remaja Korea Utara merasa tidak berutang apapun ke Kim Jong Un. Kim di satu sisi, merasa harus mempertegas lagi kontrol ideologinya terhadap kelompok pemuda agar dia tak kehilangan pengaruh" ujar Jung Gwang-il, pembelot Korea Utara yang sekarang berbisnis penyelundupan K-Pop, dikutip dari New York Times.

Kekhawatiran Kim Jong Un terus meningkat tiap bulannya. Pada April 2021, dia memperingatkan bahwa ada perubahan serius pada level ideologi di Korea Utara. Pada bulan selanjutnya, dia mengatakan Korea Utara akan runtuh jika pengaruh Korea Selatan dipelihara.

Sekarang, komputer, telepon genggam, dan pemutar musik rutin diperiksa. Segala isinya dicek, memastikan tidak ada Drama Korea ataupun K-Pop tersimpan di dalamnya. Pasangan pria tidak boleh dipanggil oppa oleh perempuan Korea Utara. Mereka harus dipanggil kamerad.

Menurut Kim Jong Un, bahasa Drama Korea menyesatkan. Survei menunjukkan Kim Jong Un masih harus berjuang keras jika ingin melawan dampak Drama Korea.

Menurut survei Seoul National University Institute for Peace and Unification, Drama Korea berperan pada keputusan warga Korut untuk membelot.

Dari 116 orang yang membelot dari Korea Utara ke Korea Selatan, nyaris separuhnya mengaku rutin menonton Drama Korea dan K-Pop. Drama Korea Crash Landing on You, yang menceritakan perempuan Korea Selatan tersasar di Korea Utara adalah salah satu serial favorit mereka.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Korea Utara korea selatan kim jong un drama korea

Sumber : tempo.co

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top