Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hoaks Covid-19: Vaksin Moderna Mengandung SM-102 hingga Kiat-Kiat Cegah Efek Samping Vaksinasi

Direktorat Pengendalian Aplikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika pun menemukan sejumlah informasi hoaks serta disinformasi yang beredar pada 27 hingga 28 Mei 2021.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 31 Mei 2021  |  00:19 WIB
Poster Bersama Lawan Corona_Stop Hoax
Poster Bersama Lawan Corona_Stop Hoax

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah hoaks dan diisinformasi terkait vaksin Covid-19 beredar di media sosial sepanjang pekan lalu.

Direktorat Pengendalian Aplikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika pun menemukan sejumlah informasi hoaks serta disinformasi yang beredar pada 27 hingga 28 Mei 2021.

Sejumlah informasi tersebut antara lain:

  1. Hoaks Vaksin Corona Moderna Mengandung SM-102 yang Berbahaya

Beredar sebuah video di media sosial yang berisi klaim vaksin corona Moderna yang mengandung SM-102. Zat ini disebut tidak cocok untuk digunakan manusia dan menyebabkan kanker.

Akun tersebut mengambil informasi soal SM-102 dari situs perusahaan bioteknologi di Michigan, Amerika Serikat, Cayman Chemical. Dalam situs itu, ia menemukan peringatan yang tertera dalam dokumen SM-102.

Faktanya, AFP menyatakan bahwa klaim kandungan SM-102 yang membahayakan manusia merupakan tidak benar alias hoaks. Cayman Chemical juga menegaskan bahwa informasi yang diunggah oleh akun tersebut tidak benar.

Pada 19 Mei 2021, perusahaan itu mengatakan SM-102 merupakan salah satu produk yang hanya digunakan untuk penelitian.

  1. Hoaks Orang yang Sudah Divaksin Covid-19 Akan Mati Dalam 2 Tahun

Beredar informasi melalui pesan berantai di WhatsApp yang mengklaim bahwa orang akan meninggal 2 tahun setelah disuntik vaksin Covid-19. Pesan ini diklaim disampaikan oleh Mike Yeadon, mantan Ketua Saintis Vaksin Pfizer.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban menegaskan bahwa informasi ini adalah hoaks.

“Dikutip dari snopes.com, dijelaskan bahwa banyak klaim yang dibuat Yeadon tidak berdasar dan tidak memiliki bukti ilmiah atau empiris,” ujar Kominfo dalam pernyataannya, dikutip Minggu (30/5/2021).

Michael Yeadon juga bukanlah Ketua Saintis Pfizer melainkan Wakil Presiden dan Kepala Ilmuwan di unit penelitian penemuan obat di Pfizer.

  1. Hoaks Vaksin Covid-19 Mengandung Magnet

Beredar sebuah video di WhatsApp yang memperlihatkan sebuah uang koin pecahan seribu rupiah tertempel di lengan seseorang. Uang tersebut diklaim menempel setelah diletakkan persis di area bekas suntikan vaksin Covid-19.

Pembuat video lantas mempersoalkan vaksin Covid-19 dan menyebut vaksin tersebut mengandung magnet.

Faktanya, informasi adanya daya magnet dari zat vaksin adalah tidak benar.

Juru Bicara Vaksin Covid-19 dan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan R dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan vaksin Covid-19 mengandung bahan aktif dan non aktif.

Bahan aktif berisi antigen dan bahan non aktif berisi zat untuk menstabilkan dan menjaga kualitas vaksin agar saat disuntikkan masih baik. Adapun jumlah cairan yang disuntik hanya 0,5 cc dan akan segera menyebar ke seluruh jaringan sekitar, sehingga tidak ada carian yang akan tersisa di tempat bekas suntikan.

Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa logam dapat menempel di permukaan kulit yang lembab, biasanya disebabkan oleh keringat. Pecahan uang logam seribu rupiah terbuat dari bahan nikel dan nikel bukan logam yang bisa menempel karena daya magnet.

“Partikel logam yang mengandung magnet tidak dapat melewati suntikan,” ungkap dr. Siti.

Dengan demikian klaim adanya daya magnet dari zat vaksin adalah tidak benar.

  1. Disinformasi Kiat-kiat Mencegah Efek Samping Vaksinasi Covid-19

Beredar sebuah unggahan berbahasa Thailand yang memuat informasi seputar kiat-kiat yang diklaim untuk mencegah efek samping vaksinasi Covid-19.

Di antara kiat tersebut antara lain tidak boleh minum kopi sebelum divaksinasi Sinovac, mengonsumsi minyak ikan selama 1-2 minggu sebelum vaksinasi AstraZeneca, serta makan satu cangkir natto (kacang Jepang) sebelum vaksinasi karena memiliki kandungan Nattokinase untuk melarutkan gumpalan darah.

Faktanya, informasi tersebut tidak berdasar.

Dilansir dari AFP, Dr Thiravat Hemachudha, spesialis penyakit menular di Universitas Chulalongkorn Thailand, mengatakan tidak ada alasan orang tidak bisa minum kopi sebelum menerima vaksin Covid-19.

Sementara itu, Dr. Thira Woratanarat, profesor di Departemen Pencegahan dan Pengobatan Sosial di Universitas Chulalongkorn mengatakan tidak ada bukti akademis bahwa minyak ikan dapat meminimalkan efek samping dari vaksin Covid-19.

“Terkait dengan mengonsumsi natto, meskipun ada penelitian yang menunjukkan manfaat Nattokinase dalam melarutkan gumpalan darah, para ilmuwan belum merekomendasikannya untuk orang yang menerima vaksin Covid-19,” tulis Kominfo dalam keterangannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hoax cek fakta Vaksin Covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top