Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penjelasan BMKG soal Kekuatan Gempa Nias Barat dari M 7,2 Jadi M 6,7

Pembaruan bukan disebabkan sistem yang dimiliki Indonesia tidak bagus. Sistem deteksi gempa BMKG memang mengutamakan kecepatan deteksi ketimbang akurasi.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 14 Mei 2021  |  17:35 WIB
Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. - Reuters
Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan data kekuatan gempa yang terjadi di Nias Barat, Sumatra Utara pada Jumat (14/5/2021) hari ini dari semula M 7,2 menjadi M 6,7.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut pembaruan tersebut terjadi seiring adanya data sensor yang lebih akurat.

“Policy [kebijakan] kami adalah data awal yang dikeluarkan kemungkinan terburuk. Jadi kami keluarkan pada menit ketiga, kemudian setelah menit ke-15 itu baru diupdate. Diupdate ya, bukan diralat. Pada menit ketiga itu baru 23 sensor yang masuk, kemudian pada menit ke-15 itu sudah ratusan sensor masuk datanya,” kata Dwikorita pada konferensi pers Jumat (14/5/2021) sore.

Eks Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut kemudian menggarisbawahi bahwa pembaruan bukan disebabkan sistem yang dimiliki Indonesia tidak bagus.

Menurut Dwikorita, sistem deteksi gempa BMKG memang mengutamakan kecepatan deteksi ketimbang akurasi.

Data awal yang diambil adalah kemungkinan terburuk, kemudian dibarui ketika sistem sudah mendeteksi lebih banyak data.

Kebijakan mengutamakan kecepatan di atas akurasi dipilih BMKG guna memberikan peringatan yang lebih dini, sehingga masyarakat dan pihak-pihak terkait bisa melakukan langkah mitigasi dengan cepat.

“Sistem informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami di Indonesia ini kurang lebih berkaca seperti di Jepang, kemudian di Australia dan di India. Karena tugas kami adalah memberikan informasi sedini mungkin agar dapat dilakukan segera penyelamatan,” imbuh Dwikorita.

Dia menyebut, bahwa di negara lain seperti Amerika Serikat (AS) dan Jerman, data gempa biasanya memang lebih akurat. Namun, biasanya otoritas terkait di kedua negara baru merilisnya ke publik setelah 15 menit.

Langkah semacam ini dinilai kurang sesuai dengan orientasi kerja BMKG yang mengutamakan peringatan kepada masyarakat.

“Berbeda dengan negara yang tidak memiliki tanggung jawab informasi yang cepat. Misalnya USGS menit 15, Jerman juga menit ke-20. Mereka berbeda dari Indonesia dan Jepang, tidak dituntut memberikan informasi pada menit ketiga,” tandasnya.

Gempa yang terjadi di Nias Jumat (14/5/2021)tercatat sudah diikuti 9 kali gempa susulan per pukul 16.20 WIB. BMKG menyebut gempa susulan tersebut berata di rentang kekuatan magnitudo 3,3 hingga 5,3.

Hasil analisis BMKG juga menyatakan, bahwa gempa tidak berpotensi tsunami. Akan tetapi, mengenai dampak kerusakan dan kemungkinan jumlah korban, hingga kini BMKG masih dalam proses koordinasi dengan BPBD dan BNPB.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa BMKG nias
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top