Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kian Banyak Warga Hong Kong Tak Percaya Vaksin, Pasokan Menumpuk

Jumlah dosis yang sudah divaksinasi baru cukup untuk melindungi 11,5 persen populasi Hong Kong, atau sekitar 7,5 juta orang pada akhir Februari.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 10 Mei 2021  |  10:59 WIB
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam saat menerima suntikan vaksin buatan China di Hong Kong, Senin (22/2/2021). - Antara \r\n\r\n
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam saat menerima suntikan vaksin buatan China di Hong Kong, Senin (22/2/2021). - Antara \\r\\n\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Tidak banyak tempat dengan kemudahan mendapatkan layanan vaksin Covid-19 daripada Hong Kong. Negara itu, menyediakan untuk semua orang di atas 16 tahun.

Seseorang hanya perlu membuat janji dengan penyuntik vaksin melalui aplikasi dan mendatangi 29 sentra vaksinasi yang tersebar di seluruh kota. Warga Hong Kong pun boleh memilih untuk menggunakan vaksin Sinovac dengan 2 suntikan dan juga Pfizer yang paling ampuh.

Namun, kebanyakan warga Hong Kong memilih jalan lain. Mereka memilih tidak melakukan vaksinasi.

Berdasarkan data Bloomberg, jumlah dosis yang sudah divaksinasi baru cukup untuk melindungi 11,5 persen populasi Hong Kong, atau sekitar 7,5 juta orang pada akhir Februari. Jumlah tersebut jauh di belakang Inggris yang pada saat yang sama sudah menyuntikkan 39,7 persen penduduknya dan Singapura 19,4 persen dengan asumsi masih banyak kalangan yang belum bisa dapat akses.

Di Hong Kong, banyak dosis vaksin tak terpakai, padahal kata pemerintah vaksin-vaksin tersebut kedaluwarsa pada September 2021. Situasi ini membuat Hong Kong aneh sendiri.

Ketika berbagai negara maju dengan stok vaksin cukup seperti Jerman, Inggris, dan Amerika menjadikan keengganan divaksin sebagai suatu tantangan untuk diselesaikan, Hong Kong sudah menghadapi skeptisme dari awal, didorong oleh komunikasi yang tak baik antara pemerintah yang tak terkenal dan tak dipilih, dengan rakyat.

Lambannya program vaksinasi juga diprediksi menghambat Hong Kong agar bisa kembali normal dan mengurangi daya tariknya sebagai pusat bisnis di tengah tingginya eksodus ekspatriat dan para penduduk lokalnya.

Kepala Otoritas Moneter Hong Kong Eddie Yue mengatakan rendahnya tingkat vaksinasi di Hong Kong membuat perusahaan internasional berpikir berkali-kali untuk memutuskan membuka cabangnya di Hong Kong.

Penolakan vaksin memang lebih tinggi di wilayah Asia Pasifik. Adapun, keberhasilan penanganan pertama membuat sebagian besar warganya seperti tak lagi takut Covid-19.

Hong Kong mencatat kurang dari 12.000 kasus dan 210 kematian akibat Covid-19 sejak awal pandemi. Negara lain seperti Taiwan, Singapura, Selandia Baru, dan Australia juga sama, tak terlalu terdampak banyak dari pandemi dibandingkan dengan negara-negara lain.

Namun, yang membuat dinamika lebih sulit untuk diselesaikan di Hong Kong adalah ketidakpercayaan yang lebih besar terlihat dari berbagai protes jalanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2019 lalu, serta tindakan kekerasan oleh Pemerintah Beijing dan otoritas lokal yang mengikis kebebasan politik penduduknya.

Dengan ketidakpercayaan politik dalam setiap unsur kehidupan di Hong Kong, sejumlah penduduk menolak apapun yang dijalankan pemerintah setempat, termasuk menolah program vaksinasinya.

“Saya tidak mau divaksinasi, karena saya dan teman-teman saya tidak mau mengikuti perintah apapun dari pemerintah. Saya tak percaya sama sekali kepada mereka, kami akan berusaha keras untuk menetang apapun perintah mereka sebisa kami,” ungkap Chau (16), dilansir Bloomberg, Senin (10/5/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong Covid-19 Vaksin Covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top