Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Junta Militer Myanmar Enggan Ikuti Saran Asean

Junta militer Myanmar menolak masukan pemimpin Asean untuk menghentikan kekerasan.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 27 April 2021  |  19:50 WIB
Kepala junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing, yang menggulingkan pemerintah terpilih dalam kudeta pada 1 Februari, memimpin parade militer pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (27/3/2021). - Antara/Reuters
Kepala junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing, yang menggulingkan pemerintah terpilih dalam kudeta pada 1 Februari, memimpin parade militer pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (27/3/2021). - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Junta militer Myanmar menolak masukan pemimpin Asean untuk menghentikan kekerasan, dengan mengatakan saran tersebut harus selaras dengan peta jalan junta dan dapat diwujudkan setelah stabilitas Myanmar kembali.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (27/4/2021), sebuah keterangan pers yang dikeluarkan Dewan Administrasi Negara militer hanya mengatakan saran yang dibuat oleh para pemimpin Asean akan dipertimbangkan secara positif jika mereka memfasilitasi rencana junta dan melayani kepentingan negara.

"Myanmar menginformasikan pertemuan tersebut bahwa akan memberikan pertimbangan yang cermat terhadap saran konstruktif yang dibuat oleh para pemimpin Asean ketika situasi kembali stabil karena prioritas saat ini adalah untuk menjaga law and order dan untuk memulihkan perdamaian dan ketenangan masyarakat," kata junta dalam rilisnya yang juga disampaikan kepada Sekretariat Asean di Jakarta.

Pernyataan tersebut menurunkan ekspektasi proses dialog yang meminta militer untuk membebaskan Aung San Suu Kyi dan para pemimpin sipil lainnya yang ditahan atau mengubah rencana untuk mengadakan pemilihan baru pada awal 2022, menyusul masa pemerintahan darurat selama setahun.

Langkah untuk menunjuk utusan khusus adalah hal yang tidak biasa untuk Asean, yang memiliki prinsip menghindari intervensi langsung perselisihan politik anggotanya.

Pada Sabtu lalu, pemimpin 10 negara Asean, termasuk Panglima Militer Min Aung Hlaing yang melakukan kudeta telah mencapai konsensus terkait Myanmar dalam pertemuan Asean Leaders Meeting pada Sabtu. Asean juga sepakat menunjuk utusan khusus untuk menengahi pembicaraan pihak yang berseberangan di Myanmar.

Kelompok etnis bersenjata di Myanmar yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) menyerang pos militer di dekat perbatasan Thailand pada Selasa (27/4/2021), menandai konflik sipil akan berlanjut, meski junta berjanji untuk mengakhiri kekerasan.

KNLA, anggota militer dari Persatuan Nasional Karen (KNU) yang merupakan kelompok bersenjata etnis tertua di Myanmar, telah menyerang sebuah pos perbatasan militer di Thaw Le Hta dekat kota barat laut Thailand, Mae Hong Song. Serangan telah mengakibatkan sejumlah korban jiwa, kata Saw Taw Nee, kepala Departemen Luar Negeri KNU.

Serangan tersebut dilakukan setelah Panglima Militer Myanmar Min Aung Hlaing setuju untuk menghentikan kekerasan saat bertemu dengan pemimpin Asean di Jakarta pada akhir pekan lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asean myanmar kudeta militer junta militer
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top